Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Lagi Marah

Terakhir!!

Blog sebagai tempat curhat?? Belum lama ini seseorang menyinggung lagi tentang kebiasaan saya bercerita. Katanya, kebanyakan curhat. Ya, maaf kalau terkesan begitu. Tulisan saya mungkin tak berbobot, tapi beginilah saya. Hanya ini yang mampu saya bagi di blog ini. Ya... Mungkin sudah waktunya membenahi diri lagi. Seperti saat saya memutuskan untuk tak lagi menulis curhat saya di catatan sebuah jejaring sosial. Dan kalau dipikir-pikir, sama saja dengan saat saya menuliskannya disini. Padahal, saya sudah sempat mengira ini akan berbeda. Karena dengan mengunjungi blog ini (sengaja ataupun tidak), berarti orang itu sudah mengikhlaskan waktunya untuk membacanya. Tapi... kasihan juga kalau ternyata blog yang dikunjungi hanya berisi curhat tak penting. Ini berarti tak ada yang berubah dari saya selama ini. Ya, sudahlah... Mungkin sudah saatnya berbagi dengan diri sendiri saja. Melupakan kebiasaan bercerita. Atau melampiaskan emosi disini. Maafkan saya, blog... Mesti meninggalkanmu ...

?!

Sekian hari menunggu menetes kembali Belum juga membuatnya kuat untuk tertahan T_T Ya, rupanya saya salah mengira dia sudah kuat Topeng kuat itu merapuh saat seseorang berusaha kembali mempertanyakan luka itu Ya, saya sebut saja luka Sebab keberadaannya hanya menyakiti hati orang saja Sungguh sangat saya syukuri Saat semua orang berusaha menutup luka itu Sebab semua sadar, ketika luka itu terbuka,  maka yang ada hanya keadaannya yang bertambah parah Tapi, rupanya itu belum bisa memuaskan semua orang Hingga semua kembali dibuka dan dibuka lagi Bunuh saja saya sekalian Sebab luka itu sungguh menyakitkan ketika dibuka kembali Dibuka berkali-kali. Seolah belum cukup luka kemarin itu Oh, iya... kalau kau tak ada saat hati itu mulai terlukai Tolong jangan mengungkitnya lagi dan lagi Sebab itu sama saja kau tak pernah mengizinkannya untuk sembuh Kau tak ada saat itu Bagaimana mungkin kau memaksanya sembuh begitu saja?!

Somba Opu VS Penjajah Masa Kini.

Somba Opu, benteng peninggalan sejarah yang akan segera dirubuhkan oleh para penjajah masa kini. Untuk apa? Waterboom, taman burung, taman gajah, apalagi? Bungalow? Penginapan menarik lainnya? Ah, rasanya tak perlu memanggil Belanda untuk menjajah kita kembali. Orang kita sendiri yang akan menghancurkan kita dari dalam. Mau nangis rasanya. Tapi, itu tak pernah cukup membuat mereka sadar. Dan, saya paling sedih waktu melihat gambar ini: dari : Peduli Bentang Somba Opu *Lihat pagar kayu itu? Saya paling ingat itu di Somba Opu. Sulit membayangkan saja keadaan rumah adat disana nanti. Padahal, dari tempat itu kita bisa mengetahui budaya Sulawesi Selatan lebih jauh. Tapi, kenapa ini tidak juga meluluhkan hati para penjajah itu yak?! Mungkin, memang benar benteng itu kurang diminati wisatawan. Tapi, kenapa bukan itu saja yang menjadi fokus perhatian mereka? Memperbaiki sarana dan prasarana-nya, misalnya. Atau, membuat kegiatan yang bisa menarik pengunjung. -_- Memang iya, saya belum sempat m...

Masih Bodoh

Ehmmmm!! Izinkan saya menarik nafas sebelum membaca lagi tulisan itu. Menenangkan diri sebelum kembali tegang mengingat hari kemarin yang tertinggal. Tulisan itu berisikan dua kata. Satu kata kerja, satunya lagi sebuah nama. *jangan memaksaku menceritakan apa kedua kata itu Ini bukan tentang dua kata itu. Ini, tentang seseorang yang pernah mengirimkannya. Dan tanpa sengaja, saya meminta seseorang membawa kembali dua kata itu di hadapan saya. Belum saya buka saat dia membawanya. Saya masukkan langsung ke tasku. Lalu, saat baru kuletakkan di sampingku, baru kukeluarkan dari tasku, baru hendak kuraih lagi lalu membacanya, tanganku masih kurang lincah untuk meraihnya lebih dulu. Seorang teman yang duduk di sisiku meraihnya selagi saya masih bergelut dengan tali tasku yang rumit itu. Ya... kubiarkan dia membacanya lebih dulu. Toh saya akan bebas membacanya setiba di rumah nanti, kalaupun tak ada yang menghambat. Waktu bergerak, lalu membawaku pada suatu kenangan. Si teman yang membaca tadi ...

Sudah Kenyang!!

Kau yang baru kukenal sore tadi. Ya, sejak kau memanggilku tadi sebenarnya saya sudah senang. Sekalipun pikirku yang akan kau tanyakan adalah kenalanmu yang mungkin saja adalah kenalanku juga. Kau menyapaku, entah menanyakan apa padaku. Kuminta teman di sampingku untuk menerjemahkannya. Maaf saja, selain mataku rabun tak jelas, pendengaranku pun tak berfungsi baik diantara hunyi rintik hujan itu. Selagi memastikan, kau malah memintaku duduk di sampingmu. Awalnya, bercerita tentang jalan kita yang berbeda. Lalu, kau meyakinkanku bahwa kaummu tak semuanya jahat, yang mungkin telah didoktrinkan kaumku. *eh, kau menuduh kaumku mendoktrinku, hah?! Kuyakinkan kau bahwa kaumku bukan orang-orang seperti itu. Kaumku mengizinkanku bergaul dgn siapapun, berfikir tentang apapun. Pembicaraan berlanjut, kau memintaku terbuka dan berkata jujur apapun pertanyaanmu nanti. Oia, kau memintaku santai dan tidak tegang. *heiiii, bagaimana mungkin saya tak tegang, dipanggil mengobrol dengan seseorang yang t...

Untuk Kalian yang Tak Ingin Hidup

Saya tak punya sesuatu untuk membuat kalian bertahan hidup. Tapi, setidaknya dengan ini saya ingin memberitahu kalau kalian beruntung punya hidup seperti saat ini. Meskipun kadang kalian menyesali kenapa kalian hidup seperti itu. Entah kenapa, akhir-akhir ini banyak manusia menyebalkan berlalu-lalang di kehidupan saya. Bukannya ingin mendepak mereka agar tidak bertemu dengan saya lagi. Tapi, rasanya menyebalkan saja bertemu dengan orang yang tiba-tiba berkata "Mau meka mati kurasa!" atau "Sedang mencari cara supaya bisa mati muda!" Untuk yang pertama, teman saya ini entah sedang terbelenggu masalah apa. Tiba-tiba dia menyatakan ingin dibunuh saja. Katanya, setidaknya dengan begitu dia tidak perlu menanggung dosa bunuh diri. Saya katakan saja, "Apa untungnya saya bunuh kau? Pahala tak dapat, malah dosa saya yang tambah banyak. Enak saja!!" Yang kedua, sama seperti yang tadi, saya juga tak tahu teman saya ini terseret masalah apa. Bawaannya pesimis sama hidu...

Masalahmu, Pilihan Hatimu

Masalah hati adalah hal yang harus diurusi diri sendiri. Maksudnya, saat dimana kita harus berjalan sendiri-sendiri. Seperti kata seorang teman pada seorang temannya yang lain. Meski katanya dia mengatakannya saat sedang berselimut amarah, "Itu masalahmu, pilihan hatimu!" *kira-kira seperti itu Ya, itu masalah pribadi kita. Urusan hati kita. Lalu, kenapa di hari kemarin kau terlalu banyak ikut campur pada urusan orang lain? Tidak hanya sekali! Berkali-kali!!! Satu... Saat seorang teman berhubungan kembali dengan seorang mantan kekasih yang selalu mengingkari janjinya. Dua kali lelaki itu berjanji untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Di kali ketiga, si teman masih saja nekad membiarkan hatinya memilih kembali ke lelaki itu. Dan... lelaki itu melakukan hal yang sama lagi. Mengingkari lagi. Tunggu... masih ada kali keempat. Yang berbeda, si teman tak hendak mendiskusikannya kepadamu sebab dia sudah sangat hafal perkataanmu nanti. Protes kerasmu terhadap kembalinya si teman...