Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2014

Seorang Penakut

Kau boleh mengantarkanku pada malam Saya tak pernah takut dengannya Saya menikmati sunyi dan gelap di sana Kau boleh meninggalkanku pada derasnya hujan Tapi, jangan harap takutku akan datang segera Saya menyukai sentuhan di kulitku oleh rintiknya Juga dingin yang menusuk tulang Bahkan jika kau menambahkan kilat, petir, dan guntur untuk melengkapinya Kau boleh tak percaya Saya malah lega setelah merasakannya Saya pernah takut ketinggian Tapi, kuobati dengan keseringan melewati jembatan penyeberangan jalan Saya tak takut makanan pedas Tak takut serangga Juga tak takut ular Tak takut api panas Tak takut jika tubuhku terluka Tapi, sungguh takut mengalami penolakan Takut dikritik sampai hatiku luka Takut tak diterima dan itu membuat hatiku memar Saya lemah Saya sebenar-benarnya hanyalah seorang pengecut, penakut...

Berakhirnya Juni

Juni hampir habis, Sayang... Jauh berjalan dari November yang sama kita tinggalkan. Tapi, masih juga kutunggu kamu dengan bodohnya. Dengan janji, "Kalau saya ke Makassar, kita ketemu yah?" Pasti. Dengan bodohnya lagi, kutunggu kamu. Tepat seperti bulan Desember, Februari, dan April lalu. Yang kutahu pasti, kamu pernah ada di sini. Seperti biasa, tanpa memberitahuku. Tanpa penepatan janjimu. Masih juga kutunggu sampai sekarang. Tepat di saat bulan Juni. Per dua bulan kebiasaanmu mengunjungi kotaku lagi. Tapi, harus ada yang berhenti untuk membohongi diri sendiri seperti sekarang ini. Tentang menunggu yang tak pernah pasti. Kenyataannya, kamu tak akan berhenti dengan janji manis itu. Maka harus aku yang berhenti membohongi diri menanti kamu. Akun Whatsapp telah kuhapus. Juga akun Wechat yang kedua, setelah upaya menghindarimu gagal. Untuk BBM, setelah menghapusmu, aku yakin tak akan berteman denganmu lagi di sana. Selanjutnya, mematahkan simcard nomor yang kamu tahu it

Ingat, Baca - Tulis!

Saya percaya, perlu banyak membaca untuk bisa membuatmu banyak menulis. Banyak bacaan, banyak tulisan. Jadi, untuk menulis tentu perlu banyak membaca terlebih dulu. Dan, saya lupa dengan kebiasaan ini. Saya tak lagi banyak membaca buku. Sedikit membaca pun sudah sangat jarang. Lalu, kenapa menulis? Saya tak tahu harus menulis apa. Membaca saja jarang, apalagi dengan menulis? Hanya karena kebiasaan membaca saya jauh berkurang, saya bahkan kehilangan minat untuk menjadi seorang penulis. Satu-satunya mimpi yang pernah membuat hidup saya jadi bersemangat. Memangnya apa saja yang pernah saya baca? Hahahaha. Saya tak lagi ingat. Ingatan saya selalunya payah. Dan semakin diperparah dengan kemalasan saya untuk menulis. Itulah kenapa, harusnya saya banyak lagi membaca, lalu menulis kemudian. Lagi-lagi, membaca, menulis, untuk mengingat apa yang pernah singgah di pikiran. Untuk membuat kepalaku masih terus berguna. Bukan hanya menjadi benda yang hinggap di atas leherku saja. Suatu waktu,