Untuk temanku yang paling baik. Terimakasih pernah menjadikanku temanmu. Bahkan lebih dari terimakasih karena pernah menjadi bala bantuan terdepanku sejak kuliah, bahkan sampai setelahku menikah. Yang terbang jauh datang menghadiri resepsi pernikahanku. Akankah kudiundang ketika kesempatanmu tiba? Hehe
Maaf karena pernah menjadi bebanmu, sampai mungkin jadinya kau menjauhiku. Maaf, yaaa. Maaf yang banyak karena mengecewakanmu, sampai jadinya sepertiku tak layak jadi temanmu.
Hari ini kurindukanmu seperti yang pernah-pernah.
Tapi, tak lagi kuhubungi kau karena takut diabaikan lagi. Jujur... sangat masih ingin kujadi temanmu. Sayangnya, kita jauh jarak dan hati. Salah satu penyesalanku tak sesukses sepertimu, adalah rasa-rasanya kujauh dari kepantasan berteman denganmu. Malu menampakkan diri dengan kurangku yang banyak, dan lebihmu yang tak sedikit.
Bisakah kita berteman lagi? Hehe
Kutahu, setelahku kau banyak bertemu orang baik jauh di luar sana. Bahkan, ketika kulihat berita terbarumu dan menyebut mereka soul sisters, aduhhh! Kita pernah di posisi itu. Setidaknya olehku, entahlah denganmu.
Pada beberapa hal, kau denganku sering tak sepaham, tapi tak sekali pun kita berdebat. Atau kau yang memilih mengalah, tapi kutahu kau bertahan dengan pilihanmu. Atau, karena itu kita jauh?
Kutahu pernah kukecewakan kau bertahun lalu, waktu jarak kita masih dekat. Kubuat kau menunggu, dan masih tak kau marah. Namun, setelahnya kita jelas berjarak. Di sana kepantasanku dipertanyakan untuk serius berteman denganmu. Kutak lupa itu. Begitupun dengan banyak kebaikanmu sedari awal dan sesudah-sudahnya. Yang artinya besar, begitu banyak kebaikan itu. Kutak lupa juga, semoga kebaikanmu jadi penjagamu di sana sampai kau selalu baik-baik saja dan tak kekurangan sesuatu apapun.
Apa masih kau ingatku? Temanmu. :-)
Komentar
Posting Komentar