Jumat, 06 Desember 2013

Confession #3

Ada seorang perempuan yang mungkin sering membuatmu kesal. Kesal karena sifat keras kepalanya. Sampai kau merasa dia tak pernah membutuhkanmu.

Dia yang selalu bisa membuka sendiri botol minumannya. Kalau pun sulit, dia tak akan meminta bantuanmu sampai dia bisa membukanya. Dia yang akan menolak tawaranmu untuk membantu memarkir sepeda motornya. Kalau pun sulit, dia masih juga menolaknya sampai dia selesai melakukannya. Dia yang masih segan kau bayarkan makan dan minumnya. Sampai kau mungkin merasa dia benar-benar tak membutuhkanmu.

Semua hanya karena dia terbiasa melakukan semuanya sendiri. Sama sekali bukan untuk menolak bantuanmu. Apalagi menjatuhkan harga dirimu sebagai lelaki. Dia masih tak terbiasa dengan kehadiranmu. Belum terbiasa membagi bebannya denganmu. Juga karena tak pernah membiarkan dirinya tergantung dengan kehadiran orang lain.

Tapi, salahkah kalau harus terus bersikap seperti biasanya? Seolah terlalu kuat dan sama sekali tak membutuhkanmu. Ataukah harus berpura-pura lemah biar kau senang? Biar kau merasa dibutuhkan. Biar dia tergantung dengan kehadiranmu.

Dia tetap terlihat seperti tak membutuhkanmu.
Padahal, kau tak tahu saja kalau kehadiranmu seperti melengkapinya.
Dan kehilanganmu, seperti kehilangan separuh dirinya.

Dia tetap membutuhkanmu entah untuk apa.
Dia tetap suka berbicara denganmu entah untuk membicarakan apa.
Dia tetap nyaman berdekatan denganmu entah karena apa.

Kemudian kau memilih meninggalkannya. Mungkin karena tak tahan dengan sikapnya. Mungkin juga karena tak pernah benar-benar nyaman dengannya. Masih berpikir dia tak membutuhkanmu? Benar. Karena tanpanya kau tak apa. Dan, ternyata tanpamu dia baik-baik saja.

Sabtu, 30 November 2013

Tentang Seorang Teman Baik

Biarkan saya menulis sesuatu tentang seorang teman. Teman yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri. Kami memang mungkin tak begitu dekat. Tak berkabar setiap harinya. Dan, mungkin saja bukan hanya saya yang dekat dengannya. Dia hanya sering bersikap baik ke banyak teman. Dan, saya hanya punya sedikit teman yang begitu dekat dengan saya. Maaf, saya orangnya mungkin cukup terbuka ke banyak orang. Tapi, masih sedikit orang yang bisa kuanggap 'nyaman' berbagi cerita dengannya. Si teman ini salah satunya. Biar saya tulis tentangnya. Biar saya tetap ingat punya teman sebaik dia.

Dia ini... (maaf, saya lebih suka tidak menuliskan identitas seseorang saat menuliskannya. Hehe)

Dia termasuk orang pertama yang saya kenali di kampus. Selain tiga orang teman kuliah yang saya kenal dari waktu SMA dulu. Dia ini, satu dari dua orang yang saya temui di Baruga kampus dulu. Dan, satu teman yang lain juga masih jadi teman terdekat dan terbaik saat ini. Kenapa orang pertama yang kita temui di satu tempat baru, selalu jadi orang terdekat dan terawet? Saya tidak mengerti. Tapi, anehnya selalu saja mengalami hal ini. Mungkin, kita memang selalu mengenali sejak awal orang yang akan dekat dengan kita. Mungkin saja sudah ada kode awal, "Orang ini yang akan dekat denganmu nanti. Percayalah!"

Dan, sepertinya tulisan ini akan menjadi tulisan yang lumayan panjang...

Selasa, 26 November 2013

Ada Bahagia di Delapan November

Banyak yang berbahagia hari itu. Ada adik sepupu kesayangan dengan usia sebelas tahunnya. Juga kakak tersayang dengan tiga tahun berpasangan dengan sang kekasih. Mereka semua sangat berbahagia menyambut hari itu. Saya pun sama. Sebelum subuh hari, saat di mana seseorang memilih meninggalkan saya.

Adik sepupu, Nabila panggilannya. Hari itu membuat kejutan di rumah kami. Setelah beberapa hari sebelumnya terus memaksa kami membelikan hadiah ini-itu untuknya. Ternyata, dia masih juga butuh perayaan. Tanpa diberi izin, dia memanggil beberapa teman terdekatnya ke rumah. Untung saja, ada persiapan kecil-kecilan yang sebenarnya hanya untuk keluarga. Dengan beberapa kado tambahan dari teman-temannya, jelas dia sangat berbahagia. Meski sederhana, hanya sajian nasi kuning, minuman dingin, dan kumpulan cerita sampai mereka lelah dan memilih pulang.

Kakak-kakak tersayang, kakak Kiky dan kak Donald. Di ulang tahun ketiga pacaran mereka, ternyata tak melulu harus senang. Kesibukan kerja kakak dan sang pacar yang berdiam diri di rumah karena sakit, memaksa mereka tak menghabiskan waktu bersama hari itu. Entahlah, pasti mereka selalu punya cara untuk mengatasi itu. Apalah guna teknologi?

Saya sendiri… ternyata tak butuh waktu lama untuk berharap banyak pada seseorang. Setelah saling berbagi kabar dan lalu menghilang dan datang lagi. Dia memilih menyerah. Bahkan berniat untuk menghilangkan dirinya saja. Saya tahu, saya tak cukup baik untuknya. Saya dan dia pun seperti hanya memaksakan diri dalam keadaan yang penuh keraguan. “Sebelum bertambah jauh ini hubungan.” katanya. Saya lalu setuju untuk menyudahinya.

Saya? Sebenarnya sangat ingin bertahan. Bukan karena tak peduli pada hati yang mulai sakit. Tapi, karena masih merasa ada banyak hal yang bisa saya dan dia perbaiki. Masih ada harapan untuk kami jaga. Bagaimana pun juga, saya tak bisa memaksakan ini. Mempertahankan harapan sendiri hanya akan menyakiti kami berdua. Dia harus berpura-pura nyaman, dan saya yang harus berpura-pura menganggap dia nyaman saja denganku. Bukankah, hanya akan menyiksa saya dan dia sama besarnya? Maka, kami mengakhirinya. Dia meminta maaf. Dan saya hanya bisa berterimakasih. Dia pernah jadi salah satu alasanku tersenyum senang. :)

Confession #2

Kau masih tak juga yakin
Benarkah mulai menyukainya?
Benarkah akan terus bertahan dengannya?
Yang kau coba hanya, menjalaninya sebaik mungkin

Beberapa hari setelah memutuskan bersama dengannya
kau malah bertemu dengan seseorang yang pernah kau sukai
Masih ada rasa... meski tak lagi ada harap
Yang kau coba hanya, mengingatkan diri tentang dia di sana

Kau tahu, sepertimu dia juga sama tak yakinnya
Kalian hanya belajar menjalani apa yang kalian punya
Kau sendiri, belajar memberi dan menerima yang ada
Juga menjaga sikap, agar tak terlalu mengganggu hidupnya

Kalian masih sangat baru, bukan?
Mungkin jadinya wajar saja kalau mesti sekaku ini
Tapi, juga manis ketika sepertinya kalian menikmati keadaan
Sekarang, kau yakin yang kau bisa hanya bertahan untuknya

Kau masih tak juga tahu jelas
Seperti apa rasa yang dia punya untukmu?
Untuknya sendiri, kau merasa senang bisa bersama dengannya
Meski, sesekali masih ada ragu

Kau hanya belajar menyukai
Dan sepertinya tak ada yang salah dengan itu
Kalaupun mesti ada sakit yang kau rasa nanti
Anggap saja itu bagian dari kesenangan yang kau punya kini

* 29 Oktober 2013

Kamis, 31 Oktober 2013

Untukmu, Hati

Katanya, kita bisa berdosa kalau dengan sengaja sudah menyakiti diri sendiri. Kalau menyakiti hati termasuk diantaranya, itu artinya saya menanggung dosa yang sama besarnya. Ya, sepertinya saya sudah dengan sengaja terus mencicipi sakit hati. Tahu sesuatu itu hanya akan memperburuk keadaan hati, tapi tetap juga saya teruskan.

Saya hanya mencoba memberi kesempatan. Kepada sang harapan untuk tetap hidup. Padahal, saya sendiri sudah seperti berdiri di tepi jurang yang bebatuannya rapuh. Kemungkinan besar saya hancur ketika terjatuh. Tapi, tetap saya memilih bertahan. Mengandalkan keajaiban untuk datang menyelamatkan, meski dengan kemungkinan yang nyaris tak terlihat.

Salahkah untuk berharap banyak? Ada pepatah,
"Sekeras-kerasnya batu bila tertimpa hujan akan retak juga."
Maka, entah sekeras apa hal yang kita punya untuk ditaklukkan. Kita selalu punya harapan untuk menghancurkannya. Setidaknya, membuatnya sedikit retak. Apalagi kalau kita punya hati yang tulus untuk meluluhkan kerasnya hal tersebut. Karenanya, saya memilih bertahan. Meski sesekali meragu saat merasa hati tak cukup kuat untuk terus disakiti.

Maaf padamu, hati. Semoga tak butuh waktu lama untuk membuatmu terus merasakan sakit. Selalu ada harap, semoga usaha ini tak sia-sia sampai saatnya kita menyerah nanti. Saat sudah tak ada lagi kesempatan untuk melunakkan dia yang sepertinya tak berhati.

Rabu, 23 Oktober 2013

Dunia Barumu

Sesuatu yang baru untuk hidupmu yang tampak membosankan. Atau, memang selalu kau rasa membosankan? Aneh memang, tiba-tiba saja memiliki sesuatu untuk kau perhatikan. Juga untuk membiasakan diri diperhatikan berlebihan. Setidaknya, ini memang yang pernah sesekali melintas di pikiranmu, bukan?

Nikmatilah... Meski dengannya, kalian memulainya dengan sebuah ketidakyakinan. Kau yang tak yakin bisa mulai hubungan yang sangat baru bagimu ini. Juga dia yang tak yakin dengan dirinya sendiri yang sudah lama tak menjalin hubungan seperti ini. "Mau belajar denganku?" katanya lagi.

"Boleh, iya, mau..." katamu masih dengan ketidakyakinan.
Kalian pun memulainya. 22 Oktober 2013. Meski kau tak ingin mengingat waktunya. Yang mungkin saja akan membuatmu jadi orang menyebalkan di kemudian hari. Sekarang yang kau bisa hanya menikmatinya. Mencoba percaya pada dirimu dan dirinya. Mencoba memberi kesempatan pada hidup, untuk memberimu warna lain yang selama ini kau anggap cukup membosankan.

Masih sangat dini untuk menganggap ini serius. Nikmatilah... mungkin kau akan mendapati bahagiamu sendiri nanti. Meski sangat takut dengan sisi buruk atau kesedihannya. Bukankah bahagia dan sedih datang dalam satu paket yang sama? Kau tak akan pernah bertemu sesaknya bahagia, kalau tak pernah mencicipi indahnya bersedih.

Sabtu, 21 September 2013

Confession #1

Mendengarnya berkata, "Jadi, apa kau menyukaiku?"
Setelahnya, mungkin itu diam terlama dalam jeda kau berbicara dengannya. Jelas, kau tak pernah bisa jujur tentang itu. Bukannya tak suka, tapi rasanya masih sulit untuk bisa menyukai seseorang yang berbahaya bagimu. Seperti ingin mendekati sesuatu yang seharusnya kau jauhi. Semacam anak kecil yang suka bermain kembang api. Tahu itu berbahaya tapi tetap saja senang memainkannya.

Kau mungkin belum begitu menyukainya. Tapi, senang ketika tahu ada seseorang yang mendengarkan ketika kau butuh berbicara. Mencoba memperbaiki pemikiranmu yang kadang keliru. Membagi ceritanya denganmu seolah kau orang yang sangat dekat dengannya. Juga seseorang yang bisa kau percayakan untuk membicarakan hal-hal yang tidak kau bagi dengan yang lain. Kau luar biasa senang dekat dengan seseorang yang menenangkan sepertinya.

Tapi, dia tak pernah tahu. Kalimat yang diucapnya pernah jadi kalimat yang paling kau harapkan terucap oleh seseorang yang lain. Meski itu mungkin hal yang tidak benar, tapi bagaimana bisa kau menyukai seseorang, yang di dalam dirinya terdapat hal-hal yang ingin kau lupakan dari seseorang yang lainnya? Ini tak pernah adil. Tapi, kau menikmatinya. Sampai sering kali lupa sedang berbicara dengannya, bukan dengan seseorang yang pernah kau harapkan itu.

Sekarang dia menjadi orang yang paling ingin kau tanya kabarnya bahkan ketika kau sangat sibuk. Lalu, tak jadi menanyakannya karena tahu di sana dia sedang sama sibuknya. Dia seseorang yang bisa membuatmu tersenyum (meski sedikit) di saat kau sedang sangat sedihnya. Kesal dan tertawa di saat yang bersamaan. Senang di saat kau berhasil membuatnya kesal dan merajuk. Lalu, sedih lagi di saat dia benar-benar kesal dan tak peduli denganmu. Kemudian, kau mengalah dan hanya bisa berkata, "Jadi, maunya seperti apa?"

Dia orang yang sepenting itu bagimu. Tapi, tetap tak bisa kau jawab ketika dia mulai bertanya, "Bagaimana saya di matamu?" Yang malah kau jawab dengan, "Kau cukup jujur untuk berani mengungkapkan dirimu yang terdahulu." Ya, dia cukup jujur. Dan tak ada yang bisa menjamin kau akan bertemu orang lebih baik darinya, tapi bisa sejujur itu denganmu.

Terakhir, dia mengucapkan terima kasih. Entah untuk apa. Mungkin sama dengan terima kasih yang disampaikannya ketika pertama kali kau mempercayakan dia menghubungimu. Tapi, entah kenapa ucapan terima kasih terdengar seperti ucapan perpisahan. Sama seperti, "Selamat tinggal, waktu yang kita lalui cukup berharga, tapi saya tak bisa bertahan lebih lama lagi denganmu."

Minggu, 08 September 2013

Sedikit Introspeksi

Kadang butuh waktu yang terlalu lama. hanya untuk sadar dan menyesal atas salah yang pernah kau perbuat. Dua tahun, misalnya.

Menyesal dua tahun ini pikiran melayang-layang tak jelas. Padahal tugasnya ya cuma kuliah. Mahasiswi malas. Bodoh.

Pernah suka menulis. Bercita-cita jadi penulis. Lalu malas. Takut dikritik. Berhenti menulis. Tentulah kualitas tulisan jadi tak meningkat.

Dulu berminat di fotograsi. Dikritik (non verbal) langsung ciut. Mogok pegang kamera. Bagaimana mungkin bisa jadi fotografer meski cuma pemula?

Sangat berkeinginan bertemu, berteman, di lingkungan yang baik-baik. Tapi, imannya naik turun tak jelas. Kapan ketemunya sama orang baik-baik?

Tak begitu pandai dan cukup baik untuk benar-benar berteman dengan yang lainnya. Dinding gengsi yang dibangun terlalu tinggi. Mereka pergi dan kau tak pernah bisa meminta mereka sekedar untuk tinggal lagi sejenak.

Punya keterbatasan dalam menyampaikan ekspresi, rasa, dan pikiran. Sering disalah mengerti orang-orang. Mereka menjauh dan kau hanya bisa kebingungan.

Tentu akan ada rasa kehilangan. Juga sedih tak mampu menjaga mereka. Padahal sebenarnya, sangat sayang.

Kurang dari empat bulan lagi sudah 23 tahun. Masih menyusahkan ibu, kakak, tante, nenek, semuanya! Kenapa belum mandiri juga?

Pernah berpikir, setelah berkeluarga akan menjadi setengah perempuan berkarir atau sepenuhnya ibu rumah tangga. Padahal, karir belum jelas terbentuk seperti apa. Juga belum cukup modal untuk jadi ibu rumah tangga ideal. Kemampuan belum berkembang banyak.

Mau jadi penulis, jurnalis, pegawai kantoran swasta/negeri? Pikiran belum mantap. Apalagi untuk menentukan bagaimana jalan yang akan dipilih kelak.

Mencoba belajar masak, mencuci pakaian dan peralatan masak/makan, ikut membersihkan rumah, semuanya masih bergerak lambat. Setengah malas.

Tak pernah melakukan sesuatu yang menyenangkan apalagi membanggakan orang tua dan keluarga. Hanya karena saya melakukan apa yang dimau. Bukan apa yang harus dilakukan.

Tahu kondisi kesehatan terus menurun. Bahkan tak jarang memburuk. Tapi, makan dan tidur tetap tak teratur. Olahraga juga kurang. Mau mati cepat?

Kamis, 28 Maret 2013

#tanpajudul

Ada rasa yang mungkin belum kau tahu adanya
Entah kenapa... yang kubisa hanya mendiamkannya saja
Padahal sudah mulai menyusahkanku
Berwujud rindu tak tuntas yang menyesakkanku

Mereka bilang, kau harusnya tahu
Tapi, bisa apa jika menikmati waktu denganmu
lebih menarik bagiku?
Maaf... masih juga berdiam diri
Sembari menunggu waktu menjauhkanmu
dan takkan mempertemukan kita disini lagi