Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sesuatu yang Lain

293 Langkah untuk Menghindar

Eits... Langkah yang dimaksud disini adalah pijakan kaki. Bukan tata cara atau proses terjadinya sesuatu. Malam tadi, pukul 19.00... Saya baru pulang dari Kampus plus Bloggers. Lalu, berjalan sekitar seratus meter dari tempat pemberhentian angkot saya, untuk menuju ke rumah. Tapi.... malangnya saya, saya lupa kalau malam ini ada acara di dekat rumah. Tepat di ujung lorong sebelah timur rumah saya. Dan saya baru mengingat itu, saat melihat sebatang kayu dengan angkuhnya menghalangi jalan saya untuk masuk ke lorong itu. Sebenarnya, saya bisa saja melangkahi kayu itu. Tapi, dua meter dari letak kayu tersebut berdiri kokoh, ada kursi berderet-deret rapat, semuanya terisi penuh dan membuat jalan tersebut terlalu sesak untuk kulalui. Hm... Saya punya ide!! Ide bodoh.. :D Saya berjalan memutar agar bisa masuk ke rumah saya tanpa melalui ujung lorong tadi. Jadinya? Saya harus lewat di ujung lorong sebelah Barat sana. Dan untuk itu, saya harus berjalan lagi, sejauh entah berapa langkah...

Aku Diam...

Kututup telinga, Dari segala pendengaran yang menyesakkan Mereka berdebat Mereka saling tuduh siapa yang bersalah Aku, diam… Kututup mata Dari penglihatan yang menyilaukan Mereka bertarung Mereka saling bertaruh siapa yang paling terang Aku, masih diam… Aku diam… Seakan tuduhanku takkan mampu menjerumuskan siapapun Seolah kilauku terlalu gelap untuk melawan mereka Atau... aku diam… Menyembunyikan tuduhanku yang paling menyesakkan dari yang lain Menyembunyikan kilauku yang pasti akan menjadikan gelap yang lain -200410- Demi menuliskan tulisan ini di sebuah dokumen ber-password di laptopku, tulisanku di dokumen itu yang sebanyak 45 halaman terhapus sudah. Semua makian juga kesenangan tentang apapun selama beberapa saat sebelumnya terhapus. Hanya karena kecerobohan mengetik ctrl+A , lalu menuliskan tulisan diatas setelahnya. Mungkin, seperti beberapa teman-teman yang beberapa file fotonya terhapus atau mendadak hilang entah kemana, 200410 saat itu saya juga stress...

Selalu Ada Jalan

Selalu ada jalan, saya percaya itu. Seperti semua rahasia yang selama ini tanpa sengaja membuka diri padaku. Bukan salah saya! Sungguh tak pernah ada maksud untuk tahu semua hal yang memang ingin saya ketahui. Selalu saja ada hal yang membuat saya tahu tentang sebuah rahasia. Saya tak pernah sengaja mencarinya. Dia yang muncul sendiri. Mempertontonkan aksinya padaku. Sungguh!!! (haha)

Merasa Sakit Jiwa

Keanehan kembali terjadi. Dia tersenyum sendiri saat tak ada yang lucu. Menyadari itu, dia selalu mencari alasan atas anggapannya tentang sesuatu yang lucu. Ibunya menggertaknya! Dia tersenyum. Bahkan nyaris tertawa. Tawanya pun terlalu polos untuk membuat seseorang tetap menggertaknya. Ibunya ikut tertawa. Lalu menanyakan penyebab dia tertawa. Katanya, "Wajah ibu semakin lucu kalau lagi melotot!" Tak hanya itu. Saat mendengar lagu, dia tertawa. Menonton video pun sama, dia juga tertawa. Bahkan di saat adegan tersedih sekalipun! Dia menertawakan cara sang aktor bersedih, menangis. Baginya, semua hal lucu, menarik. Tak semenarik kehidupannya. Dulu, dia selalu menganggap dirinya baik. Sebagaimana anggapan orang terhadapnya, anak baik-baik. Lalu, perkataan seseorang seolah meruntuhkan semua anggapan itu. Seseorang tersebut menggertaknya, seolah membalas gertakan yang seingatnya tak pernah dilontarkannya. Dia menangis. Lalu, tertidur karena terlalu lelah menangis. Dalam...

Diam?!.........

Diam. Saya selalu saja diam. Diam saat mereka sibuk berbicara. Diam saat tak ada lagi yang berani bicara. Bahkan, diam saat dipaksa bicara. Saya tidak suka bicara. Saya benci bicara. Salahkah? Pernah, saat sedang saling mengkritik dengan teman-teman. Seorang teman, bahkan mengkritik itu. Katanya, saya selalu saja diam saat teman-teman sedang seru-serunya berbicara. Kenapa? Kenapa saya tidak suka bicara saat di depan banyak orang? Itu karena saya benci jadi perhatian. Saya benci semua mata hanya tertuju pada saya. Benci menjadi titik fokus. Karena saya merasa, saat sedang menjadi titik fokus, sebenarnya semua mata yang memandang hanya berusaha mencari kesalahan pada tiap kata yang saya ucapkan. Saya benci itu! Saya juga tidak suka menimpali pembicaraan orang. Saya tidak suka menyuarakan pendapatku di tengah orang-orang yang berdebat. Saya benci berdebat! Saya selalu diam. Saat orang-orang di sekitarku sedang mengobrol dengan serunya. Tapi, saya hanya diam. Tak berkomentar se...

Mengapa.mengapa.mengapa??

Desember 2009 Siang itu, di suatu cafe. Kami bertemu karena suatu urusan. Tak hanya berdua, ada banyak teman disana. Keadaan memaksa kami duduk bersisian. Lalu, pembicaraan pun dimulai. Kami berbicara tentang notes, catatan, tulisan, dan semacamnya. Dia bertanya, mengapa saya lebih memilih menulis daripada berbicara. Mengapa saya tak berbicara langsung dengan target tulisan saya. Dia bertanya, mengapa saya dengan begitu mudahnya bisa menuliskan apapun di catatan sebuah situs pertemanan. Mengapa saya bisa dengan begitu leluasanya mengungkapkan apa yang saya rasa, apa yang saya pikirkan. Saya diam. Tak tahu bisa menjawab apa. Lalu, sejak saat itu saya mulai berpikir. Mengapa saya seperti itu? Mengapa saya dengan begitu bodohnya, mengungkapkan semuanya? Seolah apa yang saya ceritakan, penting saja bagi orang lain. Padahal, di situs pertemanan itu, bukan hanya teman dekatku saja yang bisa membaca tulisan itu. Bahkan seseorang yang saya tak tahu jelas ada dan tiadanya saja juga ...

Mari tersenyum!! ^_^

Yang membuatku indah hari ini... Beberapa teman mengatakan tubuhku mengurus. Setidaknya, tidak segemuk kemarin. Mungkin, turun berat badan sedikit dari kemarin. ^_^ Selain itu, katanya saya lebih ceria hari ini. Hhe... sebenarnya, itu hanya karena sebuah kalimat yang pernah kubaca, entah dimana, lupa!! "Senyum bisa mengurangi beban pikiran kita. Dan, senang adalah pilihan kita. Pilihan reaksi atas kondisi yang menimpa kita." Reaksi cemberut atau murung, tidak akan mengubah kondisi yang ada menjadi lebih baik. Jadi, mari menikmati hidup!! Mari tersenyum!! ^_^ Source : Google beb, Google saja

Biru

Mulai bosan dengan hijau. Tapi, tak berarti akan berhenti menyukainya. Hanya bosan. Sekarang, mulai melirik biru. Mungkin, karena saya memang menyukai laut dan langit. Mungkin juga karena beberapa waktu terakhir saya lebih sering melihat langit. Mengamati segala perubahan yang ada disana. Mengamati pergerakan awan. Kulakukan karena dengan seperti itu saya merasa damai. Seperti saat saya sangat menyukai hijau, yang mendamaikanku. Kini, saya didamaikan oleh biru. Biru langit, biru laut. Maka, saya menyukainya, menyukai biru. Seperti template ini. Biru. Biru langit dan biru lautnya tampak sangat mendamaikan. Menyegarkan. Dan, semoga saja tidak membosankan seperti yang kemarin. Saya menyukaimu, biru.