Kamis, 25 Desember 2014

Seseorang yang Saya Sebut Motivator Pribadi

Saya percaya satu mitos yang saya buat sendiri. Cerita saya dengan seseorang, takkan berhasil ketika saya coba menuliskannya.
Hanya karena itu, saya tak banyak menuliskan tentang dia, motivator pribadi saya. Bukan karena tak percaya kalau dia akan terus ada bersamaku. Hanya saja, rasa takut kehilangan dia begitu besar. Sampai logikaku tak bisa bekerja dengan baik. Bahwa mitos itu harusnya hanya jadi sekedar mitos. Jadi, mari membuktikannya. Lagipula, kalau kelak dia tak jadi denganku, itu takdir dan bukan karena pengaruh mitos ini kan?
Lalu, mulai dari mana saya menuliskannya? Rasanya dia terlalu nyata. Sampai lebih baik saya berbicara dengannya saja untuk memberitahu apa yang saya rasa. Daripada sekedar menuliskannya. Hmmm... seperti itu lah.
Namanya Abdul Rahim. Lelaki yang saya sebut dengan, hmmm... tebak saja sendiri. *blushing* Ya, ini pertama kalinya saya merasakan bahagia macam ini. Abang ini lelaki pertama yang menemani saya dan disebut pacar. Meski lidah bahkan jariku masih kelu ketika menyebutnya seperti itu.
Hal ini terlalu baru. Bahkan tak pernah termasuk dalam kamus hidup saya. Sampai suatu ketika di satu titik, saya merasa akan membutuhkan seseorang untuk terus ada denganku. Seseorang yang Insyaa Allah akan jadi teman hidupku kelak. Berjalan bersama, berjodoh sampai Allah memisahkan kami dengan cara entah apa. Di saat yang bersamaan, kami dipertemukan Allah dengan cara-Nya sendiri.
Bermula dari pertemuan singkat di bulan September 2013 lalu. Terlalu singkat sampai saya hanya mengingatnya sebatas lelaki bertopi di suatu tempat. Tanpa sempat mengingat wajah atau tahu namanya. Lalu, dipertemukan lagi pada April 2014. Di lingkungan kerja yang juga singkat. Dengan panggilan 'Pak Rahim' dan 'Bu Rizka'. Seperti itu kami kenal tanpa sempat berjabat tangan. Sampai hari ini, alhamdulillah kami masih berusaha untuk terus saling mengenal.
Apa yang bisa kuceritakan tentangnya?
Kak Rahim mungkin punya sejuta cara untuk membuat saya nyaman dengannya. Tanpa pernah menuntut apapun. Lelaki yang minim kesamaannya denganku. Tapi, bersama tak harus sama, itu kata iklan rokok. Dan, memang benar. Ketidaksamaan selera kami tidak pernah jadi alasan untuk didebat. Meski perdebatan tak pernah absen setiap kali kami bertemu. Tertawa, berdebat, saling membujuk, putus asa, sampai tertawa lagi.
Saya bersyukur dipertemukan Allah dengannya di waktu sekarang ini. Di waktu yang memang tepat dan semoga langkah apapun ke depannya selalu tepat untuk kami. Seseorang yang dengan bersamanya, kami saling memperbaiki diri. Sembari berharap, lelaki pertama yang bersamaku ini, juga jadi satu-satunya, dan jadi lelaki terakhir yang berjodoh denganku. Amiin.

Sabtu, 29 November 2014

Teman yang Tak Lagi Dekat

Ini tentang Mini yang jauh di sana...
Iya, Rukmini Rasyid yang terlalu identik dengan keberadaan saya di teman-teman KOSMIK. Dia terlalu jauh terbang. Terbang dengan pesawat, maksudnya. Sampai saya susah menyusulnya. Menyusul dengan alasan apa juga? Sekarang ini, dia terlalu sibuk, mungkin. Sampai saya merindukannya. Kalau yang satu ini... karena ada sangat banyak hal yang ingin saya ceritakan pada dia. Juga ada banyak hal yang ingin saya dengar dari dia.

Ah... baru kali ini ada teman yang bikin saya serindu ini. Kehidupan banyak berubah memang. Yang perlu saya lakukan sekarang, adalah menerima perubahan itu dan melakukan bagianku sendiri. Yaitu, juga ikut berubah sesuai kebutuhan hari ini.

Tapi... saya terlalu rindu Mini. Teman yang tidak akan bikin saya merasa terasing, meski dalam hingar bingar keramaian yang tak saya mengerti. Saya rindu. Sampai ingin berlari menggapai dia. Sangat ingin memeluk dia. Atau, kalau tak bisa, cukup dia duduk di sekitarku saja. Meski larut dalam diam. Tanpa bahan pembicaraan. Cukup ada dia saja, saya sudah tenang. Ah, Mini... kenapa terlalu jauh di sana? Saya rindu. Terlalu rindu sampai tak bisa memberitahumu tentang rindu yang saya punya.

Hari Kamis, 20  November kemarin... saya menyempatkan diri mengantar dia ke bandara. Melepas memandang dia dari balik punggungnya untuk kali terakhir (sementara ini). Beberapa jam sebelum itu, saya sempat ke rumahnya untuk beberapa keperluan. Tanpa sengaja juga ikut sibuk membantu keperluannya sebisa saya. Itu waktu-waktu terakhir yang bisa saya lewatkan dengan dia. Seolah dia hanya akan pergi seminggu saja. Tanpa ingin saya pikirkan, akan terpisah fisik dengannya selama tiga puluh bulan kendepan.

Janji, tak ada tangis. Itu yang sempat saya nyatakan dengan dia. Sampai dia pergi. Sampai beberapa kali saya sempatkan memeluk tubuh dia. Hanya demi memastikan, tubuh yang akan berjauhan dengan saya masih bersama saya saat itu. Kami tidak menangis. Saya tidak sekali pun pernah menangis sebelum dia ke benua seberang. Padahal, Tria yang sempat bersama saya ke bandara, beberapa kali memerah matanya menahan tangis. Saya masih juga tersenyum. Takut tangisku tak bisa berhenti saat ikut sedih dengan Mini yang pergi sejauh itu. Sendirian.

Saya tidak meragukan sedikitpun dia bisa bertahan di sana. Rukmini itu salah satu perempuan tangguh yang saya kenal. Perempuan yang bisa menularkan ketangguhannya saat saya malah rapuh. Sahabat, sekaligus kakak-adik yang bisa bertukar peran kapanpun dibutuhkan. Saya menyayangi dia. Dan andai saja saya punya kekuatan untuk melindungi orang-orang yang saya sayangi, biar terhindar dari hal-hal berbahaya bagi hati dan fisik, Mini pastilah akan termasuk dalam lingkaran yang saya lindungi itu. Semoga dia selalu baik-baik saja di sana.

Saya haruslah berbahagia dengan keadaan sekarang ini. Seperti yang pernah saya bicarakan dengan Tria. Mini pastilah bahagia. Dengan pilihan hidup sesuai dengan keinginannya. Menetap di negeri orang, meski bukan selamanya. Seperti Mini yang berbahagia di sana. Saya juga ikut bahagia, dengan teman baik saya yang mungkin sedang sangat bersemangatnya menikmati dunia barunya di sana. Saya bahagia! Turut senang dan berbangga dengan satu pencapaian mimpinya. Untuk disusul dengan pencapaian yang lain.

Tapi, menahan air mata bukan kebiasaan yang menyenangkan untuk saya. Dan, malam ini puncaknya sejak kali pertama mendapar kabar pencapaian Mini yang jauh itu. Sekitar sejak Agustus-September kemarin. Malam ini, sejak kata pertama di atas tadi... tangis seolah tumpah. Terlalu lama dipendam. Terlalu banyak yang ingin saya lampiaskan akan perubahan besar ini. Apa lagi dengan kata-kata terakhir sebelum dia pergi, "Harusnya kuliatko ujian. (Harusnya saya melihatmu ujian--Skripsi)." Permintaanya yang tidak sempat saya kabulkan. Dan itu bikin menangis lagi. Teman terbaik saya tidak akan tampak pada saat paling senang sekaligus menegangkan saat kuliah saya kelar nanti.

Ya, semua hanya tentang jarak dan waktu. "Kalaupun lama walaupun jauh, kita kan selalu menyatu." Seperti yang biasa kita dengar di KOSMIK sana. Rukmini akan baik-baik saja. Berbahagialah... :)

Rabu, 26 November 2014

Hanya Sedang Berbahagia

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Selamat siang (saat saya sedang menuliskan ini). Atau selamat pagi.. selamat sore.. dan selamat malam (kalau kau sedang membacanya di waktu yang lain).

Saya sedang berbahagia. Terlalu bahagia sampai takut kalau sewaktu-waktu Tuhan bisa mengubah rasa itu kapan saja. Tuhan sedang sangat berbaik hati sama saya saat ini. Bukannya saya bilang kalau di waktu yang lain Tuhan tidak baik sama saya. Tapi, sekarang ini Tuhan sedang terlalu baik. Saya terlalu bahagia. Alhamdulillah...

Alhamdulillah (lagi) beberapa teman terdekat sedang dalam perjalanannya menuju masa depan masing-masing. Rukmini yang jauh di OZ sana (yang dia janjikan akan dia ceritakan di blognya sendiri). Armita dengan karir yang katanya tidak sesuai dengan maunya, tapi saya yakin dia bisa bertahan. Triana yang masih disibukkan dengan dunia broadcast lengkap dengan event seperti yang sejak dulu dia suka. Tenri dengan perbankan yang memang sejak dulu dia mau. Armas melanjutkan kuliah S2, yang saya sebut salah satu usaha dia untuk hidup yang lebih baik nanti.. teman-teman yang lain menyusul, insyaa Allah. Begitu juga saya yang malah disibukkan dengan hal yang lain.

Saya... sedang disibukkan dengan hal yang lain. Bukan oleh skripsi yang sampai hari ini belum juga saya kelarkan. Tapi, masih ada hubungannya dengan itu. Hal baru ini berbentuk seseorang yang datang sebagai motivator pribadi saya. Sebut saja begitu. Seseorang yang datang dalam hidup saya yang datar-datar saja (dan kurang mensyukuri hidup). Dia membuat saya jadi mulai berpikir untuk menyusun target hidup, dari yang dulunya hanya mengikuti arus tanpa target apa pun. Dia mengubah cara saya melihat hidup yang saya punya. Semua jadi lebih indah dan menyenangkan. Mau itu cuaca panas, sakit kepala, kulit kering, suasana bising, semua hal yang dulunya membosankan sekarang jadi menyenangkan saja. Selalu ada sisi baik dari semuanya. Selalu ada hikmah dari setiap kejadian.

Saya bahagia. Semoga kau yang membacanya pun begitu. :)

Senin, 15 September 2014

Kehilangan, Sebuah Fase Hidup

Kehilangan adalah bagian akhir dari proses memiliki sesuatu. Atau, melepas sesuatu yang pernah kau sebut punyamu. Punyaku. Punya kita. Setidaknya, kehilangan ini hadir dalam bentuk perasaan. Seperti kutipan lirik lagu yang Letto punya, "Rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya." Kehilangan bisa berarti berakhirnya kehidupan yang pernah kita bangun bersama. Atau juga, berarti memulai kehidupan yang baru, dengan orang-orang lainnya. 

Saya pernah kehilangan. Sering. Dan seringnya tak punya nyali untuk meminta kembali apa yang pernah saya miliki itu kembali. Nyali atau sekedar gengsi? Bagi saya, meninggalkanku berarti kau kehilanganku. Tak ada jalan kembali. Rasaku tak akan pernah sama ketika kau kembali memilihku. Karena saya tak akan terima kau memilihku setelah pernah meninggalkanku ketika saya memilihmu dulu. Mengerti? Saya pun tak mengerti kenapa bisa jadi seperti itu.

Sekarang, saya tak sedang bercerita tentang kau dan kau yang ternyata kembali setelah saya tak punya minat dekat denganmu lagi. :p Saya sedang ingin bercerita tentang beberapa kehilangan (yang sebenarnya bukan sebenar-benarnya kehilangan). Ini hanya sebuah fase hidup yang harus saya jalani kemudian. Ehm... beberapa orang terdekat sedang bersiap memulai kehidupan barunya. Dan, sebagai manusia yang baik, harusnya saya serela mungkin melepas mereka demi masa depan yang lebih baik. Masa depan yang juga akan saya punya nanti. Amiin. 

Lama, sebelum hari ini. Saya sudah bersiap melepas kedekatan (secara fisik) dengan kakak saya satu-satunya. Melepasnya untuk tak lagi hidup satu atap dengan saya. Meninggalkan kebiasaan dicari ketika pulang terlambat atau mencarinya ketika giliran dia yang tak pulang cepat ke rumah. Tapi, sepertinya harus benar-benar bersiap untuk kehilangan kebiasaan itu. Sebulan dari sekarang, dia akan pulang ke rumah di mana suami dan keluarganya ada di sana (insyaa Allah). Tak ada lagi saling mencari ketika saya atau dia terlambat pulang ke rumah kami. Tak lagi akan saling menitip pesan ketika saya atau dia ada informasi penting untuk keluarga di rumah. Kakak akan menikah sebentar lagi. Alhamdulillah. 

Saya sangat bersyukur, meski yah.... agak tak rela berjauhan dengannya. Meski rumahnya hanya sebatas beberapa kilometer. Rumah yang bahkan ada di area kampus saya, area yang familiar. -_- Saya hanya tak siap untuk dewasa dan membina keluarga masing-masing yang akan menjauhkan kami nanti. Hehe. Padahal memang seharusnya seperti itu. Masing-masing kami akan punya orang-orang lain yang akan kami sebut keluarga. Orang-orang yang akan lebih penting dari ikatan persaudaraan sejak saya lahir. Ah, sedih saja rasanya! Secepat ini waktu akan membuat kami jadi orang-orang yang tak dekat. Dan, yah... ini hanya kekhawatiran saya saja. Bonusnya, saya mendapat saudara baru lainnya. (Calon) Kakak ipar yang saya tahu, sangat menyayangi kakak saya. Alhamdulillah... Semoga urusan untuk menghalalkan hubungan mereka ini dilancarkan, begitu seterusnya. Amiin!

Sayangnya, sembari bersiap untuk kehidupan yang baru ini... saya harus bersiap untuk melepas dua orang lainnya. Dua sahabat yang akan berkarir jauh dari kota ini. Cerita mereka akan saya tuliskan di posting-an selanjutnya. Semoga minat menulis itu masih ada.

## Tulisan-tulisan di blog ini, selanjutnya (atau sebelumnya juga) berisi beberapa perasaan yang sempat saya tuliskan. Keluhan, kegembiraan, kebimbangan, atau kemarahan adalah sedikit bagian dari yang saya punya. Terimakasih sudah sudi membaca. Saya mencintai kehidupan yang saya punya. Sungguh! ;) Alhamdulillah...

Senin, 30 Juni 2014

Seorang Penakut

Kau boleh mengantarkanku pada malam
Saya tak pernah takut dengannya
Saya menikmati sunyi dan gelap di sana

Kau boleh meninggalkanku pada derasnya hujan
Tapi, jangan harap takutku akan datang segera
Saya menyukai sentuhan di kulitku oleh rintiknya
Juga dingin yang menusuk tulang

Bahkan jika kau menambahkan
kilat, petir, dan guntur untuk melengkapinya
Kau boleh tak percaya
Saya malah lega setelah merasakannya

Saya pernah takut ketinggian
Tapi, kuobati dengan keseringan melewati jembatan penyeberangan jalan
Saya tak takut makanan pedas
Tak takut serangga
Juga tak takut ular
Tak takut api panas
Tak takut jika tubuhku terluka

Tapi, sungguh takut mengalami penolakan
Takut dikritik sampai hatiku luka
Takut tak diterima dan itu membuat hatiku memar
Saya lemah
Saya sebenar-benarnya hanyalah seorang pengecut, penakut...

Minggu, 29 Juni 2014

Berakhirnya Juni

Juni hampir habis, Sayang... Jauh berjalan dari November yang sama kita tinggalkan. Tapi, masih juga kutunggu kamu dengan bodohnya. Dengan janji, "Kalau saya ke Makassar, kita ketemu yah?" Pasti. Dengan bodohnya lagi, kutunggu kamu. Tepat seperti bulan Desember, Februari, dan April lalu. Yang kutahu pasti, kamu pernah ada di sini. Seperti biasa, tanpa memberitahuku. Tanpa penepatan janjimu.

Masih juga kutunggu sampai sekarang.
Tepat di saat bulan Juni.
Per dua bulan kebiasaanmu mengunjungi kotaku lagi.

Tapi, harus ada yang berhenti untuk membohongi diri sendiri seperti sekarang ini. Tentang menunggu yang tak pernah pasti. Kenyataannya, kamu tak akan berhenti dengan janji manis itu. Maka harus aku yang berhenti membohongi diri menanti kamu.

Akun Whatsapp telah kuhapus. Juga akun Wechat yang kedua, setelah upaya menghindarimu gagal. Untuk BBM, setelah menghapusmu, aku yakin tak akan berteman denganmu lagi di sana. Selanjutnya, mematahkan simcard nomor yang kamu tahu itu. (Yang akhirnya hanya berani jarang kuaktifkan, bukan mematahkannya sampai benar-benar selesai komunikasi kita)

Kekanakan, Sayang? Kalaupun iya, rasanya tak mengapa. Aku hanya harus melakukan itu semua. Jika tidak, itu berarti aku masih mengharapkanmu. Dan, sekarang sudah waktunya berhenti. Menerima semua yang terjadi dan melupakanmu.

Oh, iya... Aku pernah bertemu gadismu di gerai fastfood di kota ini. Tanpa sengaja, dan mampu membuat mataku memanas menahan tangis. Dia cantik. Chubby sesuai tipemu. Terlihat manja sekaligus dewasa sesuai inginmu. Semoga saja dia tidak keras kepala dan menyusahkanmu sepertiku. :D

Hmmm... Berbahagialah dengannya, biar tak perlu lagi aku mengkhawatirkanmu. :)





Selasa, 24 Juni 2014

Ingat, Baca - Tulis!

Saya percaya, perlu banyak membaca untuk bisa membuatmu banyak menulis. Banyak bacaan, banyak tulisan. Jadi, untuk menulis tentu perlu banyak membaca terlebih dulu. Dan, saya lupa dengan kebiasaan ini.

Saya tak lagi banyak membaca buku. Sedikit membaca pun sudah sangat jarang. Lalu, kenapa menulis? Saya tak tahu harus menulis apa. Membaca saja jarang, apalagi dengan menulis? Hanya karena kebiasaan membaca saya jauh berkurang, saya bahkan kehilangan minat untuk menjadi seorang penulis. Satu-satunya mimpi yang pernah membuat hidup saya jadi bersemangat.

Memangnya apa saja yang pernah saya baca? Hahahaha. Saya tak lagi ingat. Ingatan saya selalunya payah. Dan semakin diperparah dengan kemalasan saya untuk menulis. Itulah kenapa, harusnya saya banyak lagi membaca, lalu menulis kemudian.

Lagi-lagi, membaca, menulis, untuk mengingat apa yang pernah singgah di pikiran. Untuk membuat kepalaku masih terus berguna. Bukan hanya menjadi benda yang hinggap di atas leherku saja.

Suatu waktu, seorang adik di kampus pernah berterimakasih pada saya. Tentang kebiasaan membaca yang saya tularkan ke dia. "Ah, untung saja saya sempat diingatkan waktu itu, kak. Ternyata banyak membaca, memang banyak manfaatnya!" Saya hanya membalasnya dengan senyum. Tanpa ingat kapan pernah saya mengatakan itu padanya.

Saya jadi sadar, isi kepala adikku itu, pastilah lebih berat dari isi kepalaku yang begitu ringan ini. Sebegitu ringannya sampai mudah dibawa angin dan jadi terlupakan. Ah! Sudah tahu ingatan ini payah. Masih saja malas baca-tulis. Padahal itu satu-satunya jalan untuk menyimpan ingatanku yang terbatas.

Karena itulah tulisan ini saya buat. Sebagai pengingat untuk banyak membaca lagi. Lalu ingat lagi, hal penting yang mungkin saja terlupakan. Biar bisa lagi banyak menulis. Kemudian, kenapa harus menulis? Biar kembali ke hidupku yang bersemangat. :)

Rabu, 12 Februari 2014

Berbagi Berbagai Cerita

Saya suka mendengar orang bercerita. Sama sukanya dengan membaca cerita lewat tulisan. Saya hanya suka dengan cara orang-orang berbagi kisahnya masing-masing. Menurutku, ini seperti menularkan apa yang mereka rasa. Berbagi bahagia, haru, sedih, marah, dan kecewa. Apapun itu, bercerita membuat seseorang seperti punya arti.

Bercerita seperti membuktikan bahwa seseorang (siapapun itu) penting keberadaannya. Setiap orang membutuhkan pengakuan untuk dianggap penting. Dan, dengan mendengarkan atau membaca ceritanya, kebutuhan ini cukup terpenuhi. Cerita perlu dibagi, biar tidak menyimpan sesak sendiri. Biasanya, seseorang yang bercerita akan lebih bahagia atau lega setelah menyampaikan kisahnya. Saya juga jadinya tertular bahagia dan lega dengan kisah apapun itu. Sembari berharap, setiap orang cukup puas dengan kisahnya sendiri.

Seringnya, saya turut senang dengan kisah bahagia yang dipunya orang lain. Sangat bersyukur, di luar sana masih ada orang-orang yang berbahagia. Entah bagaimana, cerita bahagia selalu punya caranya sendiri untuk tak hanya membahagiakan satu-dua orang saja. Orang-orang di sekitarnya, dengan cepat bisa tertular bahagia. Mungkin, di sinilah kekuatan cinta sesama kita berperan. Kau tentu bahagia melihat orang lain berbahagia. Tak peduli kalau mungkin saja sebelumnya ada banyak hal yang mengecewakanmu. Berita bahagia pasti mampu membuat senyum menghapus sedikit muram di wajahmu.

Kisah menyesakkan juga punya ceritanya sendiri. Kisah ini membuat kita jadi banyak berharap. Percaya penuh pada kekuatan Tuhan untuk membuat hidup kita jadi lebih baik. Banyak bersedih, berarti banyak berharap lagi. Seperti ketika banyak bahagia, berarti harusnya banyak bersyukur lagi. Jadi, apa mereka berpasangan? Sedih membuatmu berharap. Bahagia harusnya membuatmu bersyukur.

Tulisan-tulisan di blog ini mungkin tidak banyak bermanfaat bagi pembacanya. Saya hanya mencoba berbagi bahagia dan kelegaan dengan mencoba bercerita lagi. Seperti saya yang jadi sangat suka dengan kisah yang diceritakan orang lain, semoga yang saya ceritakan juga disukai oleh kamu yang membacanya.

Saya tahu, beberapa hal mungkin tak penting untuk dibagi. Ini juga yang seringkali membatalkan niat saya untuk menulis dan berbagi cerita. Tapi, kalau bukan di sini, di mana lagi saya bisa berlatih menulis? :D Sampai saya benar-benar lega. Tak begitu penting, mungkin. Tapi, anggap saja ini salah satu cara untuk membuat saya jadi sedikit punya arti. Paling tidak untuk ingatan saya sendiri. Sama seperti cerita orang-orang lain yang jadi punya arti setelah didengar dan dibaca oleh orang lainnya. Salah satunya, mungkin adalah saya.

Akhir-akhir ini saya suka menonton program acara Bondi Vet (KompasTV). Di program acara ini, hewan pun jadi begitu penting. Bahkan bagi hewan peliharaan yang sering kali diabaikan banyak orang. Kalau hewan saja begitu berartinya, apalagi kita sesama manusia.

Bercerita dan diceritakan, seperti menjadi salah satu bentuk penghargaan atas keberadaan kita manusia. Semua orang sebenar-benarnya adalah penting. Pemeran utama dalam hidupnya masing-masing. Jadi, tak ada alasan bagi siapapun untuk merendahkan manusia lainnya. Kita tak pernah cukup baik untuk bisa menganggap orang lainnya tak lebih baik dari kita. :)

Selasa, 11 Februari 2014

Jodoh ......... Bertemu

"Jodoh pasti bertemu..." Itu kata Afgan pada salah satu lagu indah yang dinyanyikannya. Banyak orang berusaha meyakini itu. Sebagai harap biar bisa berjodoh dengan orang yang diimpikannya. Saya, tentu juga percaya itu. 

"Jodoh harus bertemu..." Itu kata saya bersama seorang teman. Kami berusaha meyakini itu. Sebagai harap biar bisa berjodoh 'hanya dengan' orang yang dimaksudkan saja. HARUS. Agak-agak memaksakan kehendak memang. Tak begitu serius. Kami hanya menikmatinya.

Tapi, semakin hari saya jadinya pesimis. Orang yang dimaksudkan seperti tak pantas mendapatkan do'a tulus seperti itu. Maka, kalimatnya diganti...
"Jodoh harus bertemu, atau yang lebih baik dari itu."
Tuhan yang menentukan siapa orang yang terbaik itu. Semoga bukan dia. Tapi, mau apa lagi kalau memang dia? Bukan sekarang... sekarang fokus dengan pencapaian hidup yang lain saja dulu. ;)

Harapan Itu Sudah Berhenti

Apa yang kau pikirkan tentang harapan?
Berharap... atau menginginkan sesuatu yang mungkin jauh di luar jangkauanmu.
Saya sendiri, menganggapnya seperti sesuatu yang menentukan bagaimana kita menjalani hidup ini. Dia serupa tujuan hanya agar hidupmu tidak berjalan tanpa arah. Dia penyemangat agar kau fokus menjalani satu macam hidup saja. Bukan membatasi, hanya mengarahkan.

Hampir setahun terakhir, saya hidup seperti berharap pada satu hal saja. Terdengar bodoh memang. Tapi, begitu kenyataannya. Saya berharap pada seseorang untuk terus bisa menemani saya. Hanya karena dia bisa menyemangati, mengajari, juga mengingatkan tentang semua hal yang terlupa tanpa sengaja.

Beberapa bulan kemudian, dia memilih pergi. Saya seperti kehilangan arah. Harapan saya musnah begitu saja. Lebih bodoh lagi, saya tak tahu harus berbuat apa untuk kembali mendapatkan semangat saya yang dulu. Sebenarnya, saya sangat membenci ini. Dan termasuk hal yang paling saya hindari dulunya. Bergantung pada kehadiran seseorang. Lalu, jadi tak punya arti ketika kehadiran orang tersebut tak lagi nyata. Tapi, terlambat saya menyadarinya. Saya terlanjur banyak berharap. Sampai sulit percaya dengan kemampuan saya sendiri.

Dua bulan berikutnya, saya mencoba bangkit lagi. Setelah berbagai macam pikiran juga hantaman kata mutiara dari teman-teman terdekat. Mereka, orang-orang yang menyayangi saya. Saya tahu itu. Mereka yang selalu ada saat butuh ataupun tak dibutuhkan. Dan, saya mensyukuri itu.

Saya mencoba membangun harapan yang baru lagi. Mencoba percaya pada kemampuan saya sendiri. Belajar meyakini jalan apapun yang saya pilih. Tapi, sayangnya... sebelum keyakinan itu kuat betul, orang itu datang lagi dan melemahkan kepercayaan yang saya punya. Harapan itu datang lagi. Dia seperti berusaha membuktikan kehadirannya masih bisa sangat berarti.

Tekad yang berusaha saya bangun sebelumnya goyah. Orang ini seperti benar-benar tahu kapan waktu yang tepat untuk hadir kembali. Ya, saat saya nyaris lupa dan tidak berpikir tentangnya lagi. Nyaris. Di saat hanya tersisa sangat sedikit harapan. Tapi, berhasil ditumbuhkannya kembali hanya dengan telpon tak terjawab dan satu pesan di aplikasi whatsapp.

Setelah dua bulan dia hampir saya anggap mati, dia datang dan meminta pertemanan lagi. Dan, rasanya terlalu jahat kalau harus benar-benar memutuskan komunikasi itu. Kami berteman lagi. Hampir saja tergoda untuk memulai hubungan baik dengannya. Tapi, seperti yang pernah seorang teman katakan (dan masih saya yakini kebenarannya), "Kembali ke masa lalu berarti kembali mengulang kesalahan yang sama."

Meski sebenarnya masih ada harap, sebaiknya saya berhenti saja. Saya belum banyak berubah dari diri saya yang dulu ditinggal dia. Dia pun sama. Jadi, harusnya tak kembali seperti dulu lagi. Atau yang terjadi hanya mengulang salah yang sama lagi. Jadi, ya berhenti saja. "Semoga bertemu yang sesuai." Katanya. Saya juga mengharapkan hal yang sama untuk dia. Dan, sepertinya tak butuh waktu yang lama untuk dia mewujudkan itu. Saya hanya menunggu giliran saja yang entah kapan. Waktu akan membuktikan semuanya menjadi lebih baik. Saya percaya itu. :)

Kamis, 30 Januari 2014

Ketika Saya Berencana Fokus

Kadang sesuatu terjadi tanpa direncanakan. Menurutku seperti itulah hidup. Yang terjadi, biasanya tak sama dengan yang kita rencanakan. Karena hidup kita sendiri, bahkan bukan kita yang memiliki. Pemiliknya, Sang Pencipta kita. Semua yang terjadi tentu atas kehendak-Nya. Kadang seperti yang kita mau, kalau memang itu yang terbaik. Lebih sering lagi, berbeda dengan yang kita mau. Karena kita sendiri bahkan tak tahu pasti mana yang memang terbaik untuk diri kita.

Dua bulan terakhir, waktu yang tersulit bagi saya untuk bisa berkonsentrasi mengerjakan tugas akhir. Ya, anggap saja ini sekedar alasan sepele yang saya punya. Sekuat tenaga harus bisa mengalihkan pikiran dari... ehmmm... hal yang harusnya tak begitu penting (sekarang ini).

Ada hati yang harus direkatkan kembali setelah sedikit patah karena kekecewaan kemarin. Ada harapan yang harus benar-benar dihentikan karena tak ada jalan bagi harapan itu bertumbuh lagi. Ada harapan baru yang mesti ditumbuhkan agar warna-warni bunganya bisa menghiasi hari kembali. Ada target lain yang harus dikejar biar hidup bisa berjalan ke tahap yang lebih baik lagi.

Ada satu malam yang harus saya habiskan hanya untuk memikirkan apa yang saya alami. Selebihnya untuk menguatkan diri agar tetap fokus dengan tujuan saya dalam waktu dekat ini. Tugas akhir yang entah kenapa masih sangat enggan diselesaikan. Sampai akhirnya saya bisa berjanji untuk benar-benar fokus dan tidak lagi memikirkan hal lain. Saya mulai tidur dengan tenang setelahnya. Dengan setumpuk agenda di hari-hari ke depan untuk melancarkan pencapaian target.

Tapi, rencana selalunya sekedar rencana. Sekitar jam 3 pagi saya terbangun dari tidur tanpa sengaja. Kemudian melirik layar ponsel sekilas hanya untuk melihat penunjuk waktu. Apa yang saya temukan kemudian? Ada dua telepon tidak terjawab. Juga satu pesan di aplikasi whatsapp. Semua dari satu nomor yang sama. Seseorang yang beberapa jam sebelumnya sudah berhenti saya harapkan datang lagi.

Sang Penulis Skenario Kehidupan bahkan tak membiarkan saya jauh dari orang yang satu itu. Ketika benar-benar berhenti berharap, dia datang lagi. Padahal, saya tak mau percaya ketika seorang teman pernah berkata, "Seseorang yang coba kau lupakan akan datang lagi ketika kau benar-benar melupakannya."

Tentu saja saya goyah setelahnya. Bagaimana mungkin hati tak senang, ketika seseorang yang pernah kau tunggu, memilih datang kembali. Dia datang beserta pesan, meminta diundang sebagai teman dalam aplikasi BBM. Tak mengindahkan pesannya, berarti benar-benar memutuskan komunikasi dengannya. Sedang memutuskan untuk kembali berkomunikasi, bisa jadi membuat hidup jadi lain ceritanya lagi.  

Godaan untuk berkomunikasi dengannya lagi, membuat saya sulit tertidur sampai sehabis subuh. Tapi, ada banyak pikiran lain yang akhirnya menunda saya memutuskan sesuatu apapun. Salah satunya, telepon yang tak terjawab itu ada tepat dua menit sebelum saya terbangun dari tidur. Sesuatu yang mungkin berarti saya tak dibiarkan dulu untuk langsung berbicara dengannya saat itu.

Saya menunda melakukan apa pun dan memilih untuk kembali banyak berpikir. Yang saya tahu, ada harapan yang kembali tumbuh untuk bersamanya lagi. Tapi, bagaimana jadinya dengan rencana pencapaian target hidup yang lain?