Sabtu, 19 Juni 2010

Hidup Bercerita!!

Pernah merasakan tidak punya pegangan untuk mengabadikan cerita??

Ya, itu saya alami beberapa minggu terakhir. Keadaan yang sangat menyesakkan ketika ingin mengabadikan cerita tapi tak pernah bisa. Kalau tidak ingin diabadikan sebenarnya bisa saja. Bercerita dalam hati, sehingga yang tahu hanya saya dan Dia saja. Tapi, ingatanku terlalu rawan terlupakan. Jadi, bisa-bisa tidak meneruskan cerita yang sama seperti yang kuceritakan di awalnya.

Oh, iya... banyak hal yang membuat cerita itu tidak terabadikan...

Satu...
Laptop rusak. Entah terserang virus apa, sampai-sampai terinstall ulangpun tak bisa. Baru coba diperbaiki oleh seorang teman. Masih sementara mencari teman-teman yang lain untuk memperbaikinya. Ada yang bersedia?? :)

Kedua...
Posting blog lewat ponsel??
Ponsel menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Susah terkoneksi ke internet. :(

Tiga...
Ada fitur notes di ponsel saya!! Yippie!! :))
Pengabadian cerita terlampiaskan disini. Tapi...

Empat...
Si ponsel tipe 5000 itu rusak!! :'(
Tanpa diapa-apakan langsung rusak begitu saja. Layarnya pecah di dalam. Ada bercak hitam berbentuk dauN yang memenuhi 75% layar 320x480 itu. Sisa layar yang tidak terkena bercak hitam tidak kalah parah!! Warnanya memutih tidak jelas. Cahayanya terang-redup bergantian, bikin sakit kepala!!
Putus asa saya disini. Ponsel rusak. Nomor tidak aktif berhari-hari. Tapi, belakangan menyenangkan juga hidup tidak bergantung pada benda putih-ungu itu.

Lima...
Sempat berpikir untuk menulis di kertas atau buku saja, tapi... TIDAAAAAKKKK!!!!!!!!!! Tulisan saya bisa saja hilang, tercecer entah dimana dan dibaca oleh orang-orang yang saya berharap tidak dibaca oleh mereka.

Enam...
Sempat nekad menggunakan laptop, tapi ternyata error terus... :(

Tujuh...
Jeng.jeng.jeng!!!!!!
Kakake dibelikan ponsel baru. Saya pakai ponsel lamanya saja untuk mengaktifkan nomor. Dan menggunakan ponsel barunya untu tetap menulis... Eh, mengetik!! Hhe :))

Terimakasih, Tuhan. Menyayangi-Mu selalu. Yang telah memberi semuanya dan menyadarkan hamba untuk mensyukuri semuanya. :))
Hidup menulis!! eh, mengetik!! :D

Keadilan bagi Sulung dan Bungsu

Okai... Juni ini pengeluaran besar dilakukan oleh ibu. Maaf, bun... Kedua putrimu yang tak tahu diri selalu saja menyusahkanmu.

Dimulai dari pendanaan study tour beserta pelengkapnya. Mungkin, bagi sebagian orang jumlah itu tak banyak, tapi sangat berat bagi orang tua tunggal sepertinya. Meski dibantu sama ayah sedikit. Hhe

Ditambah lagi, pembelian ponsel baru untuk si sulung, atas dasar asas keadilan. Adil bagi kedua putrinya, tapi baginya??

Memang sejak kecil mereka dididik untuk bersikap adil. Lebih tepatnya, ssi bungsu yang selalu menuntut agar orang lain, khususnya kedua orang tua mereka, memperlakukan mereka secara adil. Dibelikan ini kalau si sulung dibelikan ini juga. Diberi itu jika si sulung diberi itu juga. Bukan hanya dalam bentuk materi, tapi juga perlakuan. Misalnya, si sulung sudah pernah pergi atau diajak ke suatu tempat, maka sebagai manusia yang menjunjung tinggi nilai keadilan, si bungsu menuntut untuk dibawa ke tempat yang sama meski tak pernah menuntut kapan tepatnya. Atau, si sulung sudah ABCD, si bungsu juga harus mencoba kapan-kapan ABCD tersebut.

Tapi, jangan pernah menganggap si bungsu egois dalam hal ini. Jika dia mendapat sebuah perlakuan dari orang tuanya, ia selalu mengingatkan pada orang tuanya agar sulung mendapat perlakuan yang sama. Dalam hal yang mengenakkan, apalagi hal yang tidak mengenakkan. Dihukum, misalnya. Meski tak pernah dihukum apapun sampai saat ini. Kecuali, cubitan ibu di atas tumit kaki saat si bungsu mencoba pulang malam waktu kelas empat SD hanya untuk berenang dengan temanktemannya. :D

Maaf, bun. Semoga pengeluaranmu kali ini tidak sia-sia. Contohnya saja, ponsel baru si sulung sedang digunakan si bungsu untuk membuat postingan ini. Keenakan pakai ponsel sulung. Dimana adilnya?? Hhe... :D

Senin, 07 Juni 2010

Lari dari Kenyataan

"Memang lari dari kenyataan itu pilihanku. Terserah orang mau melihat sikapku, hanya seorang pengecut..."
- Ada Band -

Ya, pengecut. Dan cenderung sering lari dari kenyataan. Terlalu takut menghadapi kenyataan yang menegangkan. Terlalu sering melarikan diri. Seolah masalah bisa selesai begitu saja. Padahal sadar betul, masalah yang ada hanya ditunda tidak diselesaikan.

Kamis, 03 Juni 2010

Air dan Udara

Sore tadi,
oleh Air kepada Udara...

Pernah kita dikabarkan dekat oleh beberapa orang. Aku, senang bukan main karenanya. Tentu saja. Sebab aku memang suka seperti itu, aku memang suka padamu. Lalu, kita menambah heboh kabar tentang kita. Tanpa sadar, wallpaper di ponsel kita sama, foto kita. Kau mungkin saja memasang itu sebab wajahmu terlihat sangat manis disana. Tapi, tidak aku. Aku memasangnya secara sengaja. Sebab objek di gambar itu kita. Aku dan kamu. Itu foto pertama kita. Aku menyukainya. Sambil sesekali berkhayal tentang nyatanya kabar yang beredar tentang kita. Berkhayal bahwa itu tak hanya kabar tak pasti, melainkan benar adanya. Benar ada kita di kenyataan ini.

Lalu, seiring makin seringnya kabar itu datang, kau tampak tak suka atas itu. Kucoba meminta maaf padamu. Berharap kabar itu tidak merubah sikapmu padaku. Tapi, terlambat. Kau tak hanya berubah. Kau merubah kabar yang ada selama ini. Merubahnya menjadi kabar yang tak hanya tidak mengenakkan. Tapi, juga menyakitkan.

Kucoba tidak memikirkan hal itu. Berharap kabar itu hanya sekedar kabar. Kabar yang tak akan pernah jadi nyata. Lalu, kuberanikan diri menanyakannya langsung padamu. Dan, kau tak menjawab. Lalu, kudesak terus sampai kau tertekan. Tapi, rupanya tekanan itu bukannya menghentikan langkahmu untuk menjauhiku, kau malah semakin jauh. Jauh tak terengkuh. Lalu, pandanganku mengabur sesaat setelah tersadar, kau bukan hanya merubah sikapmu untukku. Tapi, aku juga telah kehilanganmu, udaraku. Ketidaksadaran menarikku begitu dalam, lalu gelap...

##

Oleh Udara kepada Air...

Maaf atas sikapku yang tak sopan saat mereka membicarakan tentang kita. Aku selalu menampakkan wajah murung di hadapanmu. Bukan tanpa alasan, aku hanya takut melukaimu.

Tapi, kau terlihat senang-senang saja. Seperti air, membentuk dirimu sesuai wadah yang kau tempati, kau membiasakan dirimu sesuai dengan situasi yang kau hadapi. Kupikir, mungkin watakmu memang seperti itu. Menganggap biasa semua yang pernah terjadi di antara kita, termasuk yang mereka bicarakan itu.

Lalu, kau memasang wallpaper ponsel yang ternyata sama dengan ponselku, foto pertama kita. Wajar saja, kau terlihat cantik disitu. Alasan yang sama denganku saat menjadikannya wallpaper.

Suatu keberuntungan bagiku bisa berfoto denganmu. Dan melihat wallpaper itu, kembali membuatku senang setengah mati. Di foto itu terekam wajah polos dan senyum tulus yang selalu membuat orang tak dapat menahan diri untuk membalas senyum itu tiap kali melihatnya. Aku membiarkannya menjadi wallpaperku. Setidaknya senyummu itu tersimpan untukku, hanya untukku. Senyum yang sebenarnya tak pernah kuikhlaskan untuk orang lain. Senyum yang seharusnya ada hanya untukku. Tapi, tak bisa.

Aku lalu membuat kabar yang mengaburkan kabar kita. Kabar yang bisa membuatmu menjauhiku. Tapi, tak berhasil sepertinya. Kau malah mengejarku. Membuatku hampir gila karenamu.

Lalu, aku terus berlari, berharap kau lelah dan berhenti mengejar. Tapi, bukannya berhenti karena kelelahan, kau malah terus ada dan tak pernah hilang. Kau bukan hanya mengejarku dari belakang. Tapi, bayangmu terus menemani di kiri-kananku. Bahkan berhenti di suatu titik di depan sana, seolah menungguku mendekat.

Aku terus berlari, ditemani olehmu. Tanpa tahu mana dirimu yang sebenarnya karena kini disetiap sisiku ada engkau. Dan entah mengapa, raut wajahku tak lagi murung, aku malah terus tersenyum, membalas senyummu yang entah tersungging sampai kapan.

##