Langsung ke konten utama

Postingan

Untuk Temanku

Untuk temanku yang paling baik. Terimakasih pernah menjadikanku temanmu. Bahkan lebih dari terimakasih karena pernah menjadi bala bantuan terdepanku sejak kuliah, bahkan sampai setelahku menikah. Yang terbang jauh datang menghadiri resepsi pernikahanku. Akankah kudiundang ketika kesempatanmu tiba? Hehe Maaf karena pernah menjadi bebanmu, sampai mungkin jadinya kau menjauhiku. Maaf, yaaa. Maaf yang banyak karena mengecewakanmu, sampai jadinya sepertiku tak layak jadi temanmu. Hari ini kurindukanmu seperti yang pernah-pernah.  Tapi, tak lagi kuhubungi kau karena takut diabaikan lagi. Jujur... sangat masih ingin kujadi temanmu. Sayangnya, kita jauh jarak dan hati. Salah satu penyesalanku tak sesukses sepertimu, adalah rasa-rasanya kujauh dari kepantasan berteman denganmu. Malu menampakkan diri dengan kurangku yang banyak, dan lebihmu yang tak sedikit.  Bisakah kita berteman lagi? Hehe Kutahu, setelahku kau banyak bertemu orang baik jauh di luar sana. Bahkan, ketika kulihat berita...

Aktivitas di Luar Kebiasaan

 Halo, saya Rizka. Seorang istri dan ibu dari sepasang putra dan putri yang lagi lucu-lucunya. Dua anak cukup? Biasanya, keseharian saya hanyalah mengurus rumah tangga. Seperti ibu muda biasanya. Yang kemudian selama lebih dari setahun belakangan, mencoba beraktivitas di luar kebiasaan. Ini tak mudah, meskipun sekarang lebih mudah rasanya. Kenapa? Ada dua kenapa dan kenapa.  Kenapa saya masih menginginkan aktivitas lain di luar kebiasaan menjadi ibu rumah tangga? Saya mungkin masih bisa leyeh-leyeh di rumah. Menikmati empuknya pembaringan serta hembusan angin dari kipas angin listrik di sudut kamar, atas nama istirahat sejenak. Dari kesibukan memenuhi kebutuhan suami dan anak-anak saya. Tapi, seorang yang sangat bisa menikmati waktu santai dengan begitu seriusnya, juga sangat bisa bosan. Jadi, intinya adalah kebosanan itu sendiri. Yang bahkan semua cara untuk membunuh rasa bosan ini, sudah jadi aktivitas yang membosankan.  Bukan saya tak mencintai suami dan anak-anakku t...

Element (Liversion)

Kalau ditanya, masih suka Element (band)? Masiiiiih... Didi Riyadi? Apalagi! Saya tipe orang yang sekalinya suka ya akan suka terus. Tapi, saya juga orang yang mudah bosan. Jadi, sebisanya menghindari untuk terus mendengarkan lagu2nya. Apalagi dengan kesibukan setelah menikah, yang tidak mungkin cuma melakukan hal2 yang disukai.  Di tengah semua kebosanan dengan masa pandemi sekarang ini, Element Reunion aktif kembali memproduksi ulang beberapa lagunya dengan versi lain. Istilah dari Element sendiri liversion. Dengan 3 lagu yang liversion ini, yang terbaru ada Kupersembahkan Nirwana. Yang astagaaaaa... lagu favoritku walaupun saat dirilis dulu saya masih sangat kecil dengan umur 10 tahun! 😆 yang 21 tahun kemudian baru dirilis versi barunya di aplikasi2 streaming musik online. Saya sertakan link-nya dari Joox di sini. Supaya tidak lupa, gampang didapat, sekaligus membantu publikasi Element di blog saya yang viewers-nya tidak seberapa ini. Selamat menikmati! 😁 Element - Kupersembah...

Kamu, Do'a Diam-Diamku

Aku akan mendo'akanmu diam-diam Aku masih mendo'akanmu, seperti yang sudah-sudah Tapi, tak selalu... tentu saja banyak hal lain yang ikut kudo'akan Tapi, juga ada kamu di sana Mungkin, tak seperti yang seharusnya Ketika takdir diputuskan dan itu bukanlah kamu Kamu satu-satunya orang, yang entah kenapa membuatku khawatir ketika harus kukabarkan kabar bahagiaku sudah datang Yang hanya kamu jawab, "Benar yang kubilang, kamu akan menikah." Kuminta kehadiranmu, kamu pun menyanggupinya, hadir mengisi bahagiaku seperti yang sudah-sudah Lega rasanya, juga senang tak terkira Seperti gadis kecil yang merajuk, dan dibujuk dengan es krim di tanganmu Atau, seperti ketika Hadirmu dengan segelas air di tangan Saat kuterbaring sakit Dan lagu itu akan selalu mengingatkanku tentangmu Dengan akhir yang sama Dengan do'a yang sama untukmu... Sahabatku, usai tawa ini.  Izinkan aku bercerita:  Telah jauh, ku mendaki.  Sesak udara di atas puncak khayalan.  Jangan sampai kau di sana T...

Bukan lagi "Kita"

Entah apa yang akan kau pikir Melihat namaku sekilas di layar handphone mu Meski tak akan sering karena tak lagi sama, memperlihatkan aktivitas terbaruku di media sosial tak akan semenyenangkan dulu Seperti yang memang dulu kulakukan memperlihatkan apa yang kupikirkan, kulakukan Bukan untuk menarik perhatianmu, perhatian dia Tentangmu, bagiku... melihat hal baru tentangmu, cukup memuaskanku Aku cukup puas kita tak mesti bersama Lebih puas lagi kita saling menikmati hidup kita masing-masing Kehidupan kita saat ini Kehidupan yang tak ada dalam bayangan kita,  pada diri sepuluh tahun sebelumnya Belum lama ini, saya bertemu seorang temanmu yang akhirnya memberitahu kenapa dulu kau menghindariku Yang kemudian membuat segalanya menjadi jelas Menjawab semua pertanyaan kenapa dan kenapa yang lama menggangguku Dan yang belum dan mungkin tak akan kuberitahukan padamu saat ini Kenapa tak menerimamu saat kau datang padaku lagi Kau juga mungkin tak tahu Telah menjad...

Rumahku Indonesia VS Darurat Covid-19

Ada yang tak biasa tentang keadaan sekarang ini. Negeriku Indonesia bersama dunia sedang berjuang melawan virus corona atau Covid-19 sejak akhir tahun 2019 lalu. Indonesia sendiri baru diliputi kepanikan tentangnya di awal Maret 2020. Ketika bapak Jokowi, presiden kita, mengumumkan dua orang di antara kita sudah terdampak virus ini.  Hari ini, menjelang akhir Maret 2020. Saya pribadi mendadak diserang sakit kepala teramat sangat. Setelah sore harinya  WA pribadi dan grup saya geger dikarenakan Prof. Idrus Paturusi, Rektor Kampus UNHAS pada masanya, termasuk dalam 13 orang positif Covid-19 di SulSel per 25 Maret 2020 ini. Seseorang seperti beliau pun sudah terdampak. Bersama 12 orang lainnya, yang bisa saja adalah mereka yang ditemui di keseharian kita. Semoga mereka lekas pulih, dan badai virus ini segera berlalu. Saya mengkhawatirkan banyak hal. Terutama, keluarga dan kerabat, pastinya. Yang mana, setelah menikah dan hidup dengan keluarga kecilku sendiri, saya tak lagi...

Sebuah Surat sebagai Istri

Menikah tidaklah semudah tidur dan terbangun di sisimu setiap harinya Menikah bukanlah hanya tentang pendapatanmu yang harus rela kau bagi denganku Ya, kau harus mau berbagi sebagai lelakiku Sepertiku, perempuan yang harus rela membagi waktu-waktu bersamamu Ketika yang kulakukan bukan lagi hanya tentang diriku sendiri Meski terkadang, mengurus diriku sendiripun terasa sulit Banyak hal yang mungkin terlihat berantakan di matamu, Sayang Sepertiku yang harus memaklumi apa yang ada padamu Tapi, yakinlah menjelang tiga tahun kita bersama Aku dan juga kamu masihlah harus banyak belajar Belajar sabar, belajar mengertimu seperti kau mengerti aku Tiga tahun bersamamu, ternyata kita sudah berubah banyak Meski sudah lima tahun mengenalmu, tapi dua tahun pertama tak ikut dihitung Sebab 'berpacaran' hanyalah sebuah kamuflase untuk saling mengundang di kehidupan kita masing-masing ✌ Sedari awal meminangku, banyak hal yang coba kau ajarkan pada istrimu yang bengal ini Berm...

Perempuan Tangguh

Pernah saya dan beberapa teman mendapat julukan ini. bersama tiga teman seangkatan di kampus dan dua kakak di sana. Agak beresiko memang, dengan kata-kata itu. Karena sesungguhnya kami (sepertinya) hanyalah mencoba terlihat tangguh. Kami juga bukan superhero yang harus membantu kaum yang lemah. Apalah kami yang membantu diri sendiri saja sudah sulit. Atau itu hanya perasaanku saja. Pada akhirnya mereka jadi tangguh dengan cara mereka sendiri. Semoga aku pun sama. Update 2019... Tak semua dari mereka masih dekat denganku sekarang ini. Secara komunikasi, hanya dua dari mereka. Secara fisik, tak satu pun dari mereka dengan mudah kutemui saar ini. Apa jadinya kami kalau bertemu lagi? Mungkin akan mudah meski hanya bertanya kabar terkini tentang keadaan kami masing-masing. Agak merindukan mereka... Merindukan rasa tangguh seolah kami benar-benar tangguh Karena sesungguhnya saya hanya sedang rapuh saat ini Mungkin sedikit atmosfer di antara mereka bisa menularkan ketangguhan ...

Aku Kamu Punyaku Punyamu

Rasa minder itu masih ada Ketika melihat mereka punya Apa yang tak saya punya Ketika mereka bisa Apa yang tak saya bisa ... Sedih itu wajar untuk kita sebagai manusia. Biar bisa menghargai apa yang kita punya. Begitu pun dengan penyesalan. Biar kita bisa memilih untuk tak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan. Dan, di sana lah saya sekarang. Separuh sedih, separuh menyesal. Mencari teman bercerita, tapi seperti ada yang salah. Ceritaku tak menarik untuk didengar, mereka mungkin bosan dengan ceritaku, atau saya yang pernah tak memberi kesempatan bercerita ketika mereka butuh. Teman hidup, alhamdulillah saya punya. Tapi, teman dekat sepertinya sedang jauh... AH! Itu yang terjadi ketika gadget yang kau punya, hanya kau jadikan alat pencari informasi orang-orang di sekitarmu. Bukannya malah berkomunikasi dengan mereka. ... Sekian, celotehan awal tahun masehi! ... Pada dasarnya, saya banyak bersyukur Dan memang sudah seharusnya begitu Karena, saya juga punya Yang merek...

Kenapa masih menulis?

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Teman, pernah ada seseorang yang lebih suka dalam diamnya daripada berbicara. 'Katanya' lebih suka menulis daripada berkata langsung dalam bicaranya. Mungkin, karena dia belum menemukan teman yang cocok dalam berbicara, bercerita. Atau, dia belum cukup percaya dengan dirinya sendiri juga dengan teman bicaranya. Dia pasti punya kesulitan tersendiri sampai lebih suka bertahan dalam pikirannya sendiri, daripada membaginya, mencari teman yang bisa membantah atau mengusik apa yang dianggapnya benar. Ya, dia seegois itu. Sampai sekarang pun tak berubah dengan keras kepala yang sama. Alasan sebenarnya, sesederhana itu. Ada perempuan pendiam, yang tak suka kalau kau bantah. Tak suka dipaksa sepemikiran denganmu. Tak bisa terima kalau pemikirannya tidak diterima olehmu. Itu saja. Lalu, kenapa dikatakannya kalau "Lebih baik dituliskan saja."? Karena dalam tulisannya, kau tak bisa membantahnya sampai habis kau baca tulisan itu. Atau, bisa jadi mala...

Tak Lagi Sama

Apa yang kau miliki sekarang, bisa jadi bukanlah yang pernah kau harapkan dulu. Apa yang tak lagi kau miliki sekarang, mungkin malah jadi yang sangat kau harapkan dulu. Hidup memang begitu. Hidupku dan hidupmu. Saya dan kamu berbeda nasib, berbeda jalan hidup. Ada saya yang memilih membangun keluarga lebih dulu, ada yang membangun karir dan masa depan yang semoga sesuai inginmu, ada yang juga sibuk bekerja menata masa depan, dan yang lainnya berusaha mengimbangi karir dan keluarga kecil yang belum lama ini dinikmatinya. Saya menikmati apa yang saya punya, begitupun kuharap kalian sama. Bukan tak mau berharap kehidupan yang lebih baik dari kerja kerasku sendiri. Yakinlah, saya juga menginginkan hal yang sama. Meski rasanya makin sulit ketika diberi pilihan untuk meninggalkan pangeran kecilku, lebih dari setengah hari yang kupunya. Ya, saya juga berniat untuk bekerja suatu hari nanti, sama seperti kalian. Menunggu waktu saja. Dan, hati yang ikhlas menjalani rutinitas yang berbeda n...

Postingan Pertama Sejak...

Assalamu'alaikum, blog saya yang sudah seperti hidup, penuh kerikil dan bebatuan! Cek postingan terakhir dan ternyata itu sudah dua tahun yang lalu. hehe Assalamu'alaikum Wr. Wb., teman-teman yang mungkin sempat membaca ini. ☺ Alhamdulillah... kalau ditanya kabar, hari ini baik-baik saja, semoga kamu pun demikian. Mau cerita, alhamdulillah sekarang sudah menikah dan minim galau, tak seperti yang dulu. Sudah beranak satu yang lagi lucu-lucunya, baru lima bulan umurnya bayiku itu. Bayiku baru saja sakit dan sampai harus dirawat di RSIA waktu. Tapi, alhamdulillah sudah mendingan dan tidur pulas di sampingku waktu saya menuliskan ini. Insyaa Allah... niatnya akan mulai menulis lagi di sini nanti. Tapi, mungkin isinya yaaa tentang kehidupan berumah tangga. Atau mungkin kalau jadi berkarir nanti. Kalau... hehe Sangat rindu menulis, meskipun sulit membagi waktu. Semoga bisa disempatkan. Karena jadi istri dan ibu adalah yang paling saya syukuri saat ini. Dan ingin saya bagi ke...

Teman Jauh (Jarak, Waktu, dan Langkah Hidup)

Teruntuk saudari tak sedarahku, yang jauh di negeri orang. Ini semacam surat yang sangat ingin kusampaikan padamu. Dari sekian banyak hal yang tak lagi kita saling ceritakan. Dari sekian banyak berita yang tak lagi kita saling bagikan. Terpaut jauhnya jarak, juga perbedaan waktu dua-tiga jam (tergantung musim) (lupa kenapa) , kesempatan santai kita tak sama. Atau bisa juga karena takut saling mengganggu dengan adanya perbedaan langkah hidup kita hari ini. Kau tahu, meski sedih kau tak lagi bisa langsung kupeluk untuk beberapa saat ini, saya teramat senang kau jauh di sana. Melakoni apa yang kau kejar selama ini. Meski itu hanya satu dari apa yang kau cita-citakan, berkarir di negeri orang. Meski kecewa dan lelah mendatangimu karena beberapa hal yang tak sesuai inginmu. Saya masih senang kau ada di sana. Merasakan langsung apa yang sangat kau ingini di sana. Saya tahu, kau lelah dan rindu melepas lelahmu di sini. Di antara kesempatan untuk berkarir tak jauh dari halamanmu, dengan sed...

Usang Asing

Jangan terpaku pada judulnya. Hanya kata acak di kepalaku. Apa kabarmu? Kalimat sederhana yang rasanya begitu sulit diucap pada teman sepertimu. Mungkin, karena terlalu lama tak pernah bercakap denganmu. Juga mungkin karena tak ada lagi yang penting dalam percakapan kita. Padahal, kita pernah berada dalam lingkungan sederhana dengan kalimat sederhana dalam pergaulan sederhana kita. Bertemu dalam ramainya pertemanan. Mengobrol tentang si teman dan temannya yang lain lagi. Atau tentang temanmu yang pernah akrab denganku dan temanku yang juga akrab denganmu. Teman-teman yang sama menyenangkannya denganmu. Kau itu inspirasi, salah satu motivator kami. Mungkin juga, kau salah satu penyebab eratnya lingkungan pergaulan itu. Kau mengikat kita tanpa tuntutan. Dengan segala kepercayaanmu juga sikap baikmu. Akhirnya menjadikan kami meneruskan kebaikan demi kebaikan kepada mereka yang menjadi teman berikutnya, seterusnya. Ada janji yang belum kupenuhi padamu. Tentang tulisan yang p...

(Muak dengan) Rindu (Jangan Baca Ini)

Hari ini, 22 Oktober 2015. Jam 3 lewat 11 menit ketika saya mulai menuliskan ini. Tidak ada yang spesial sebenarnya. Hanya ingin menandai, hari ini, beberapa hari sebelumnya, bukan... dalam waktu yang sudah sangat lama. Saya seperti kehilangan satu dan lain hal. Entah apa. Seringkali, kehilangan itu juga kita sebut rindu. Entah lebih pantas yang mana kali ini. Bisa rindu atau juga kehilangan. Intinya, ada saja yang tak lengkap rasanya. Pada satu fase hidup yang sedang berjalan saat ini, masih saja ada yang kurang, tak lengkap. Padahal, sehari-harinya saya dekat dengan keluarga. Ibu yang tak lagi bertugas jauh di pulau kecil sana. Komunikasi dengan bapak, mulai berangsur membaik. Ponakan lelaki mungil yang sehari-harinya banyak menyita perhatianku, dari satu-satunya kakak kandung perempuan kesayangan yang sekarang tinggal serumah lagi dengan saya. Juga seorang lelaki kesayangan yang selalunya bikin perasaan terjun bebas dan melayang. Tapi, masih juga kurang. Saya rindu menulis. Rindu ...

Untuk Paris dan Jo

Singkat saja kali ini. Aku akan menyusul kalian. Seminar proposal. Segera. Segera, setelah bulat tekadku menghadap ibu PA cantik dan baik hatinya. Serta bapak Ketua Jurusan yang tak kalah baiknya. Ttd., Rizka dan sisa-sisa semangat demi menghabiskan 08 yang tersisa di sisa-sisa akhir kesempatan bergelar Sarjana Ilmu Komunikasi, eh, Sarjana Sosial dari kampus merah.

"Apa Mimpimu?"

Banyak yang bertanya, "Apa masalahmu sampai lama begini kelar kuliahnya?" Yakin mau tahu? Karena jujur saja, saya sendiri tak banyak berpikir soal itu. Atau lebih tepatnya, saya tak banyak berpikir lagi selama tiga tahun belakangan. Kalau hidup ini bagaikan aliran sungai yang bermuara entah kemana, maka saya sudah hanyut di dalamnya. Tanpa sedikitpun usaha untuk memilih hendak bersinggah kemana. Saya punya seorang teman, yang sebenarnya bisa disebut motivator dan memahami psikologi seseorang. Satu waktu dia menanyakan satu hal yang kemudian menjerat kami dalam pembicaraan panjang dan dalam. Dari sini saya juga tersadar, kau tidak akan teringat kalau kau sudah melupakan sesuatu kalau tak ada yang menanyakannya. "Apa mimpimu?" Saya sendiri tak lagi mengandalkan mimpi untuk membuat hidupku bertahan. Sebut saja dia sudah hancur. Saya tak punya tujuan, dan ini serius. Saya pernah bermimpi menjadi seorang penulis. Lalu dia menghilang dengan sendirinya. Saya juga ta...

Takdir Punya Waktunya Sendiri

Bukan tentang kemapanan yang kita kejar, lalu memutuskan untuk bersama. Bukan tentang bahagia seterusnya, lalu selalu ingin bersama. Hanya saja, sebagian waktu yang tidak kita bagi bersama, hanya akan dihabiskan dengan pemikiran tentang, Kapan kita akan bersama lagi? Takdir punya waktunya sendiri. Sebagaimana kita yang hanya dibiarkan bertemu satu kali di September 2013. Mungkin sebagai pertemuan awal untuk memperkenalkan, Orang itu yang akan terus membagi waktunya denganmu, nanti. Kemudian pertemuan yang tak kita sengaja. Tanpa pernah kita rencanakan. Tanpa pernah menjadi sebagian harapan yang ingin kita wujudkan. Kita bertemu lagi akhirnya, 'kan? Bahkan komunikasi yang timbul-tenggelam tidak pernah menjadikan apa yang kita alami sekarang ini, terlintas di pikiran. Kita sedang bersama sekarang. Seperti yang sudah ditakdirkan Tuhan yang tak pernah kita tebak sebelumnya. Seperti itu juga bagaimana kita bersatu dan berpisah nantinya. Tak usah menebak. Tapi, tak lupa berja...

SEGERA!~

"Pikirkan kami yang selalu menanyakan, Bagaimana kabarnya Rizka? " Saya tahu, kalian tidak ingin saya menanggapi pernyataan itu dengan begitu melankolisnya. Tapi, serius. Saya terharu dan masih juga merasakan kehangatan yang sama seperti kali pertama saya dan teman-teman disambut di tempat itu. Ruang kecil di Lantai 2 FIS IV yang kita sebut KOSMIK. Yang meski berpindah tempat yang lebih mini lagi, tetap kita sebut rumah kecil atau rumah kedua kita. Karena memang, tak butuh sekedar dinding, lantai, dan atap untuk kita sebut ruang berbagi kita. Saya pernah merasa kehilangan akan kebersamaan itu. Sampai merasa terasing dan memilih menunduk setiap berjalan di koridor kampus, bertemu dengan wajah-wajah yang tak saya kenali. Tapi, tetap saya usahakan membalas sapa dan senyum. Karena adik-adik, yang saya yakin sebagian sama tak saling mengenali, juga tetap menyapa dan tersenyum hanya karena saya salah satu kakak di sana. Tanpa lupa, di saat yang sama saya juga adik dari kakak-ka...

Perasaan Yang Entah Apa

Untuk temanku yang jauh di negeri orang sana, Rukmini Rasyid. Ini bulan ketiga kau tak lagi menjejakkan kaki di kotamu ini, Makassar. Bahkan negerimu, Indonesia. Saya yakin kau tak pernah lupa tanah air kita ini. Meski kau meninggalkannya untuk mencicipi mimpimu yang lain, berkunjung ke negeri lain di luar sana. Semoga kau masih dan selalu baik-baik saja. Do'a yang sama selalu saya mohonkan untukmu di sana. "Ingat, sendirian nanti kau di sana." Kalimat tanpa saringan yang saya hadiahkan padamu di malam sebelum kau pergi. Bukan untuk mengingatkan kalau kau akan kesepian di sana. Karena saya yakin kau tak akan kesepian. Kau mudah berteman. Juga mudah membuat orang banyak menyukaimu yang sederhana, mudah berteman, baik hati dan menyenangkan. Semoga selalu saja begitu. Saya hanya sangat mengkhawatirkanmu. Saya tak lagi bisa menemanimu pulang di gelapnya malam. Berjalan bersamamu sepulang dari entah di mana kita sempat berpijak. Kita selalu berbagi itu. Menyusuri setengah j...