Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Belajar Bercerita

Rasa yang Tak Pernah Sama

Berjalan denganmu, rasa yang tak pernah sama setiap harinya... Kala pertama, yang ada hanya ketakutan. Rasa yang entah kenapa membuatku bergetar, sulit menerima kehadiranmu. Seolah kau akan merenggut semua hidupku dan tak akan mengembalikannya lagi seperti semula. Tapi, bukankah memang harus seperti itu? Semuanya tak akan sama lagi sejak kali pertama mengenalmu. Setelahnya, aku lalu mengagumi hadirmu. Sikapmu yang begitu tegas dan membuatku tak bisa berkutik menentang apapun katamu. Apa lagi yang bisa kupersalahkan ketika semua yang kau katakan memiliki pembenarannya sendiri? Yang lain mungkin tak bisa melihat hal itu dan terus mempersalahkanmu. Tapi, tidak denganku yang entah mengapa selalu saja melihat hal baik di setiap tingkahmu. Tapi, bukankah semua hal akan memiliki sisi baiknya sendiri? Begitu juga dengan sisi buruknya, yang entah kenapa kabur begitu saja di mataku. Sekarang, hadirmu selalu mengejutkanku. Tak pernah sama persis setiap waktunya. Kadang kau begitu menyenang...

Menyesakkan Rasa

Cinta itu menyesakkanku Bukan saat gadis lain yang menjadi pilihanmu Tapi, saat kau tak butuh aku Dan aku tak boleh lagi memperhatikanmu Sayang ini menyesakkanku Bukan saat aku malah menyemangatimu mengejarnya, menipu diri melupakan rasaku Tapi, saat kau tak butuh lagi dukunganku Dan memilih berjalan sendiri tanpa pernah ada aku Rindu bisa menyesakkanku Bukan saat aku mengingat dia yang telah lalu Tapi saat kau ada di hadapanku Melihatku, tak menyapaku, dan memilih berlalu Kita pernah punya cerita Dengan cinta, sayang, dan rindu yang bersesakan Sekalipun kita tak lagi berada dalam satu cerita Melupakan rasa malah makin menyesakkan

Pengabaianmu

Di sudut jalan, hari itu... kita bertemu. Seperti biasa, kalau bukan aku yang menyapamu, kita tak akan pernah bicara lagi kan? Kenapa? Sepertinya kau terus menghindariku. Pernahkah ada salah yang tak kusadari? Kau tak pernah mau memberitahuku itu. Huh... kau membiarkanku bertanya sendiri. Mencari jawabannya sendiri. Kenapa tak kau bantu? Sekedar memberi petunjuk atau apalah yang bisa membuatnya menjadi mudah. Bisa saja semuanya kuabaikan. Sikap tak pedulimu. Bahkan saat sedang sibuk tidak memperhatikanku. Bisa saja aku juga tak peduli itu. Tapi, kau membuatku merasa bersalah. Salah karena tak pernah tahu salah dan tiba-tiba ditinggalkan. Tanpa diberitahu apa kesalahanku, apalagi diberi waktu untuk memberi penjelasan. Sudah, ditinggal saja. Kau sempat membuatku kebingungan sampai beberapa hari setelahnya. Lalu, atas dukungan teman-temanku, kuputuskan mengabaikan semuanya saja. Lagi. Tapi, semua pengabaian itu sia-sia saat bertemu denganmu. Bertemu dengan sikap dingin yang seolah sud...

Rindu yang Tersimpan?

Biarkan aku memberi tahumu sesuatu. Salah. Bukan. Menanyakan sesuatu padamu. Aku tahu kau juga tak tahu apa jawabnya. Hanya penasaran. Lebih tepatnya, sempat membayangkan tentang sesuatu ini... Apa jadinya kalau kau ada disini? Lucu sendiri membayangkan seperti itu. :) Mungkin aku akan selalu terlihat malu dan tak pernah berani berbuat apapun. :D Lalu, menghabiskan hariku berbagi kabar denganmu. Meski dalam pertukaran kabar itu, kita tak pernah berani menanyakannya secara langsung. Hanya saling berbagi cerita. Setidaknya, kita bisa saling tahu apa yang kita rasa. Menyenangkan, sebenarnya. Belum ada yang menandingi betapa penuh warna hari-hari seperti itu. Tapi, kalau itu yang terjadi, takkan kudapati diriku yang seperti hari ini. Bebas karena tak ada kau yang akan memperhatikan keberadaanku. Bebas karena tak perlu mengkhawatirkan keadaanmu disini. Disana kau aman-aman saja kan? Ya, aku tahu. Banyak yang memperhatikanmu leb...

Jawaban Pembuktian

Pasti ada alasannya, kenapa kita dipertemukan malam tadi. Dipertemukan di tempat yang sebelumnya tak terjangkau oleh kita. Kita tak datang bersama. Datang sendiri-sendiri dan bertemu disana tadi malam. Aku melihatmu sekilas. Lalu, menyapamu saat sadar itu benar dirimu. Kau membalas sapaanku. Dan bersikap santai saja sedang aku belum pulih dari kagetku. Lalu, memusatkan pikiranmu tentang tujuanmu datang ke tempat itu. Sementara aku, hanya memperhatikan kau yang ada di hadapanku. Lupa sejenak dengan tujuan awalku datang kesana. Aku masih bertanya-tanya, kenapa mesti kita pertemukan disana? Saat itu juga, dimana sama sekali tak terlintas di pikiran kita untuk merekam keberadaan kita disana. Masih dengan pertanyaan yang memenuhi kepalaku, tanpa memandangku sedikitpun, kau memilih pergi mencari tujuan awalmu tadi. Kau sementara mencari, dan aku menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaanku tadi. Kita tak pernah menjadi istimewa!! 30 ...

Menanti Pembuktian

Tentang hari ini, mungkin kau sama sepertiku. Menantinya dengan tidak sabar. Terus memikirkannya. Tapi, mungkin juga tidak. Mungkin kau malah menganggapnya biasa saja. Seperti yang lain. Memperlakukanku sama sedang aku terus menganggapnya istimewa. Tentang janjimu kemarin tentang sesuatu di hari ini. Mungkin kita sama. Aku gelisah karena penasaran akan janjimu. Dan kau penasaran melihat ekspresiku saat melihat sesuatu yang hendak kau berikan. Atau, mungkin... kau malah gelisah terbebani karena harus menepati janjimu? Aku tak melihat kesungguhan saat kau berjanji. Tapi, terus kau ulangi sampai aku terus mengingatnya. Lalu, bagaimana bisa aku tidak terus memikirkannya? Kau membuatku terlihat seperti anak kecil dijanjikan coklat kesukaannya. Terus menantikannya dengan penuh kesungguhan. Bedanya, tak akan kuperlihatkan betapa gelisahnya aku menantikan pemberianmu nanti itu. Kenapa masih kuterus berharap? Bukan tentang pemberianmu itu, sebenarnya. Tapi, tentang penegasan sikapmu...

Jatuh #1

"Kalau kita jatuh cinta, makan lebih enak, tidur lebih nyenyak.Pengennya senyum terus. Jalanpun seperti nggak napak, rasanya mungkin seperti terbang melayang." - Rama (Fauzi Baadila) #LOVE Yup, dia merasa seperti itu. Kecuali dalam hal, "tidur lebih nyenyak". Sebab dalam tidurnya pun dia masih sempat memikirkanmu. Ya, dalam mimpi. Mungkin, sebab terlalu sering dia memikirkanmu hingga turut melibatkanmu dalam mimpinya. Entah apa yang membuat kau terus bermain di pikirannya. Yang dia tahu dia harus sesegera mungkin memberi tahu seseorang tentang itu. Hingga akhirnya dia mengirim pesan singkat ke seorang temannya. Menceritakan tentang kebingungannya. Tentang sikapmu terhadapnya dan kebingungan ia menghadapi sikapmu itu. Kata temannya, "Jalani saja..." Ya, seharusnya dia cukup menjalaninya saja. Dengan itu dia bisa tenang. Tapi, yang terjadi malah kepanikan yang melanda dia. Tak tahu bagaimana harus bersikap terhadapmu. Tapi, seperti kata temannya. Bukank...

Mengenang, bukan Berharap

Aku mengingatmu lagi.  Salah. Pada dasarnya, aku tak pernah benar-benar melupakanmu.  Aku hanya tidak menghiraukan rasa rindu padamu.  Dan hanya butuh sedikit pemantik agar rindu itu menghangat kembali. Bagi kita, tak ada lagi kesempatan untuk bersama.  Jadi, untuk apa lagi harap itu ada?  Rasaku mungkin tulus.  Tapi, tetap membutuhkan keberadaanmu untuk melengkapinya.  Dan, rasanya itu yang tak mungkin. Yang kubutuhkan sekarang, hanya kerelaan untuk melepasmu. Rasa yang tak akan ada tanpa usahaku mendapatkannya. Segala kesibukan tak mampu menghilangkan rasaku untukmu.  Segala pengalih perhatian belum cukup membuatku tak mengingatmu.  Pun ketika kucoba menaruh hati pada yang lain,  tanpa sadar selalu kubandingkan ia denganmu.  Sepertinya, segala usahaku takkan cukup jika hanya berkisar pada usaha melupakanmu. Yang kubutuhkan hanya kerelaan.  Ya, rela sebisa mungkin untuk tak menaruh harap bersamamu....

Tiga Pertemuan (Masih Tanpa Nama)

Kita memang belum kenal baik Hanya sempat mengobrol di pertemuan pertama kita Sedikit mengobrol tentang temanku itu Meski menyebalkan, tetap kutanggapi basa-basi itu dengan bersemangat, Dengan perasaan yang masih aneh berbicara dengan orang asing Kau sempat menyebutkan namamu saat itu Tapi, maafkan saya karna akhirnya lupa nama yang kau sebutkan :D Yang kedua... Maaf, jika tidak kupedulikan kehadiranmu Sebab masih ragu itu dirimu yang kemarin Baru sadar itu dirimu saat kau beranjak pergi :D Padahal, sebelum pertemuan kedua itu, selalu ada rasa waswas akan bertemu denganmu Waswas sebab tak tahu harus bersikap seperti apa Sedang kau sudah memintaku untuk bersikap baik padamu Baik yg bagaimana?? Pada akhirnya saya hanya bersikap seolah-olah tidak mengenalimu Padahal kita sempat bertatapan saat itu -_- Toh kau juga tidak menegurku :P Yang ketiga... Izinkan saya tertawa dulu... :D Menurutku ini sangat lucu!! :P Saat itu, saya sedang berusaha menghubungi seorang teman Sambil menunggu terhubu...

Pergi?

Kulihat punggung itu menjauh Tak sengaja memang Tapi, melihatnya membuatku berfikir tentang seseorang Ya, saya mengenali punggung itu Sangat berharap salah mengenalinya Lalu, kulirik kaki-kaki itu Menatap cara berjalannya Sangat mengenalinya Masih berharap salah mengenalinya Ada dua warna yang membalut tubuh itu Dua warna yang bertolak belakang Dan dua warna itu menandakan kau akan segera meninggalkanku Sangat berharap kau mengenakan dua warna itu hanya karena kebetulan saja Tapi... tiba-tiba semua menjadi jelas sekarang Punggung tadi, adalah punggungmu Juga langkah kaki yang bergerak meninggalkanku Serta dua warna yang memperjelas kepergian itu Kau akan pergi... Semua punya waktu tersendiri Semua pasti akan pergi Meninggalkan kejadian kemarin Seperti hari esok yang akan meninggalkan hari ini

Sudah Bukan Waktunya :)

Setiap kejadian, punya waktunya sendiri. Akan indah pada waktunya sendiri. Agar kita mengingatnya. Setidaknya agar kita merasa 'pernah' mengalami hal yang indah juga. Tidak melulu menderita, bersedih, kesepian. Ada yang menanggapi 'saat indah' itu dengan tertawa. Menertawakan kejadian lucu yang mungkin pernah menimpa. Atau... bersedih, berharap 'saat indah' itu bisa terulang. Lalu, menangisinya sebab tersadar kalau semua 'saat indah' itu tak mungkin kembali lagi. Kau mungkin senang diperhatikan. Meski risih setiap gerak-gerikmu mengundang komentar semua orang yang ada di sekitarmu. Termasuk orang yang mungkin kau tak mengharapkan akan diperhatikan olehnya. Lalu, ketika kau tak lagi diperhatikan, dan melihat orang di depanmu mendapat perhatian yang dulu didapatkan olehmu, kau... rindu. Kau bisa menanggapinya dengan ikut memperhatikan. Atau... hanya diam menertawakan mereka. Atau... diam dan kesepian sendiri.

-------------------------

Yang ditangisi, bukan tentang penyesalan akan adanya hari ini Hari dimana kesadaran itu ternyata malah melukainya Ada alasan lagi untuk tak membuatnya menangis? Katamu, kau tak akan berulang melukainya lagi Akan tetap menemaninya dan kembali bersama lagi Sedang, kehadirannya kini sudah tak penting lagi Bahkan cenderung diabaikan olehmu Apa itu belum cukup untuk membuatnya terlukai? Yang ditangisinya, mengapa sampai hari ini dia masih saja terluka Sedang kau sudah menyebutkan nama lain disana Bahkan sampai terdengar lantang tepat di telinganya Ada alasan lagi untuk tak membiarkannya terlukai? Tolong... Jangan pernah berjanji untuk sesuatu yang tak kau yakini saat kau mengucapnya Jangan pernah memberi harapan Padanya yang kau sendiri sudah tak ingat lagi apapun tentangnya Jangan pernah merasa sangat mengerti seseorang, sedang kau sendiri yang paling membuat dia tersakiti Lalu, mana kemengertianmu selama ini? Atau... oleh karena kau mengerti bagaimana membuat dia t...

Ingatan Tentangmu

Ada saat dimana ingatanku kembali tentangmu Saat seruangan dalam diam dgn org yg belum akrab dgnku Saat bergelut dgn ketidaktepatan waktu Saat kuabaikan waktu shalatku Saat hanya diam atas amarahku Saat bertemu dgn permainan masa kecilmu Saat menyanyikan "Hingga Ujung Waktu-SO7" yg sayangnya hanya untukmu Saat kelaparan dan menunggu ada yg hadir untuk mencari makan bersamaku Saat melihat coklat yg pernah kau janjikan untukku Ada saat dimana ingatan itu nyata, tapi hanya bisa bergerak meninggalkanmu. Maaf!!

Air dan Udara

Sore tadi, oleh Air kepada Udara... Pernah kita dikabarkan dekat oleh beberapa orang. Aku, senang bukan main karenanya. Tentu saja. Sebab aku memang suka seperti itu, aku memang suka padamu. Lalu, kita menambah heboh kabar tentang kita. Tanpa sadar, wallpaper di ponsel kita sama, foto kita. Kau mungkin saja memasang itu sebab wajahmu terlihat sangat manis disana. Tapi, tidak aku. Aku memasangnya secara sengaja. Sebab objek di gambar itu kita. Aku dan kamu. Itu foto pertama kita. Aku menyukainya. Sambil sesekali berkhayal tentang nyatanya kabar yang beredar tentang kita. Berkhayal bahwa itu tak hanya kabar tak pasti, melainkan benar adanya. Benar ada kita di kenyataan ini. Lalu, seiring makin seringnya kabar itu datang, kau tampak tak suka atas itu. Kucoba meminta maaf padamu. Berharap kabar itu tidak merubah sikapmu padaku. Tapi, terlambat. Kau tak hanya berubah. Kau merubah kabar yang ada selama ini. Merubahnya menjadi kabar yang tak hanya tidak mengenakkan. Tapi, juga menyakitkan. K...