Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Mereka yang Berjasa

Lagi-lagi Memulai Kembali

Saya kembali lagi berniat mengisi blog ini. Setelah kemarin sempat tergoyahkan oleh pendapat beberapa teman. Ya, saya sangat mudah terpengaruh. Saya lalu menganggap semua yang tertuliskan kemarin adalah kebodohan. Saya ditegur beberapa teman. Katanya, blog ini hanya berisikan curahan hati. Mungkin tak banyak berguna. Tapi, bukankah pernah saya katakan, "beginilah diriku"? Ya, seharusnya saya tak lupa itu. Ini memang diri saya. Dan tak seharusnya juga saya tidak menganggap teguran beberapa teman itu tak penting. Seharusnya itu malah menjadi pemicu agar blog ini tak melulu berisikan curahan hati. Maaf, saya melupakan itu. Dan... disinilah saya. Kembali hadir setelah sempat merubah alamat dan mengatur sedemikian rupa, agar blog ini kemarin hanya bisa dilihat oleh saya sendiri. Hhe. Andai saya tahu dari dulu kalau cara itu ada, takkan saya hapus blog yang terdahulu. Saya juga sempat membuat Semut Hijau yang lain . Tapi, kalau dipikir-pikir, sehati-hati apapun saya mema...

Untuk Teman TerBAIK

Saya kehilanganmu, teman. Dan sepertinya kau sudah melupakanku. Itu tak apa. Biar saja itu menjadi masa kini kita. Dan, izinkan saya bercerita sedikit tentang masa lalu kita. Kau pernah menjadi teman terbaik untukku. Ingat, untukku kau memang yang terbaik. Saya pernah tidak mengikuti suatu kegiatan karena sakit. Sebagai konsekuensinya, saya harus rela mendengar cerita teman-teman kita yang mengikutinya. Satu hal yang paling tidak saya sukai. Mendengar pengalaman teman-teman yang saya tidak terlibat di dalamnya. Mereka bercerita tentang senang, sedih, takut, dan marah yang mereka lewati bersama. Dan, saya jadi iri karenanya. Mungkin karena itu juga kebersamaan itu tidak melekat padaku. Seringkali saya merasa terasing, sendiri. Dan, kau berbeda. Kau tidak pernah menyinggung sedikit pun tentang kegiatan itu. Sampai-sampai saya mengira kau juga tidak mengikutinya. Baik sekali kau, teman. Kau mengerti bagaimana rasanya terasing diantara teman-teman dengan cerita mereka yang sama. Dan ...

Tulisan!!

Saya hanya merindukan, saat seseorang menagih agar tulisan-tulisan itu bisa tercipta lagi. Juga merindukan saat seseorang lainnya menyatakan menyukai tulisanku. Dan meski dia gemar memuji dengan maksud tertentu, saya tahu pujian itu tulus. Sebab bukan saya yang diincarnya saat dia sedang memuji itu. Selain itu, saat seseorang meminta saya menulis. Itu adalah saat dimana saya merasa penting untuk menulis. Meskipun hingga hari ini, tak satupun kata yang terangkai untuk memenuhi pinta itu. Maaf... Masih ada lagi. Saat beberapa teman datang bersamaan. Dengan pujian yang berlebihan sebab terkejut melihat tulisan-tulisan saya. Bahkan, katanya seorang dari mereka meneteskan air mata saat membacanya. Mereka yang mengumumkan kegemaran menulis saya kepada teman-teman lainnya. Dan, dulu... waktu SMA, dua orang teman rela menyediakan waktu khususnya untuk membaca tulisan-tulisan saya. Mereka akan membacanya dengan serius, seolah yang dibacanya itu buku cetakan, bukan kertas berisi tulisan tan...

Dia, yang Menguatkan Kerapuhan

Ini tulisan tentangnya. Tentang wanita hebat yang menguatkan setiap langkahku yang rapuh. Mungkin tak banyak yang pernah kutulis tentangnya. Kebanyakan, menulis tentang mantan pasangan hidupnya. Aku terlalu merindukan sosok mantannya itu, hingga lupa sosoknya yang lebih penting dari pria itu. Pernah aku menanyakan ini pada teman-teman sewaktu kecil dulu... "Lebih sayang mana, ayah atau ibu?" Kebanyakan dari mereka menjawab, "Sama saja. Tak ingin membeda-bedakan mereka." Saya bisa saja dengan tegas menjawab, "Ibu!!" Saya lebih dekat dengan beliau ketimbang ayahku, mungkin alasannya saat itu. Itupun sebelum ayahku harus pergi jauh untuk menuntaskan sekolahnya, selama dua tahun di ujung timur pulau Jawa sana. Sepulang ayah sekolah, jawabanku berubah... "Ayah!!" Itu karena ibuku dikirim bertugas di sebuah pulau (dan sekarang pun masih). Sampai akhirnya dari bangun sampai tidur lagi yang kulihat hanyalah ayah. Ayah ke kantor, saya bangunkan. Sepulang ...

Keadilan bagi Sulung dan Bungsu

Okai... Juni ini pengeluaran besar dilakukan oleh ibu. Maaf, bun... Kedua putrimu yang tak tahu diri selalu saja menyusahkanmu. Dimulai dari pendanaan study tour beserta pelengkapnya. Mungkin, bagi sebagian orang jumlah itu tak banyak, tapi sangat berat bagi orang tua tunggal sepertinya. Meski dibantu sama ayah sedikit. Hhe Ditambah lagi, pembelian ponsel baru untuk si sulung, atas dasar asas keadilan. Adil bagi kedua putrinya, tapi baginya?? Memang sejak kecil mereka dididik untuk bersikap adil. Lebih tepatnya, ssi bungsu yang selalu menuntut agar orang lain, khususnya kedua orang tua mereka, memperlakukan mereka secara adil. Dibelikan ini kalau si sulung dibelikan ini juga. Diberi itu jika si sulung diberi itu juga. Bukan hanya dalam bentuk materi, tapi juga perlakuan. Misalnya, si sulung sudah pernah pergi atau diajak ke suatu tempat, maka sebagai manusia yang menjunjung tinggi nilai keadilan, si bungsu menuntut untuk dibawa ke tempat yang sama meski tak pernah menuntut kapan tepatn...

"Mauko kayak saya?!"

Pagi itu, pukul 09.30 saya tiba di kampus. Berniat kuliah, pada awalnya. Tapi, mau apalagi, saya sudah telat 90 menit. Saya sempat melirik ke dalam kelas. Kulihat asdos-nya sedang asyik mengajar teman-temanku. Hm... karena alasan takut dimarahi asdos dan malas masuk, saya memilih duduk di koridor saja. Menunggu perkuliahan selesai. Saya duduk di samping dia. Pagi itu, saya bermaksud menyapanya saja. Mungkin bisa berbagi cerita sedikit di pagi yang cerah itu. Tapi... Dia : "Kenapako nda masuk??" Saya : "Telatka datang, adami dosennya." Dia : "Ih, masuk mko!! baru itu datang dosennya!! cepatko, masukko!!" (dengan sedikit membentak) Saya : "Edd.. janganmi deh! malaska! lagipula banyak kali mi sy nda masuk. Error mi pasti itu" Dia : "Nda ji. baru lima menit itu masuk dosenmu. Masukmi cepat!" Saya : "Tapi jam berapa mi ini, kak!" Dia : "Masukko! Mauko kayak saya?!" Saya tersentak, terdiam! Mungkin s...