Langsung ke konten utama

Postingan

Bukan lagi "Kita"

Entah apa yang akan kau pikir Melihat namaku sekilas di layar handphone mu Meski tak akan sering karena tak lagi sama, memperlihatkan aktivitas terbaruku di media sosial tak akan semenyenangkan dulu Seperti yang memang dulu kulakukan memperlihatkan apa yang kupikirkan, kulakukan Bukan untuk menarik perhatianmu, perhatian dia Tentangmu, bagiku... melihat hal baru tentangmu, cukup memuaskanku Aku cukup puas kita tak mesti bersama Lebih puas lagi kita saling menikmati hidup kita masing-masing Kehidupan kita saat ini Kehidupan yang tak ada dalam bayangan kita,  pada diri sepuluh tahun sebelumnya Belum lama ini, saya bertemu seorang temanmu yang akhirnya memberitahu kenapa dulu kau menghindariku Yang kemudian membuat segalanya menjadi jelas Menjawab semua pertanyaan kenapa dan kenapa yang lama menggangguku Dan yang belum dan mungkin tak akan kuberitahukan padamu saat ini Kenapa tak menerimamu saat kau datang padaku lagi Kau juga mungkin tak tahu Telah menjad...

Rumahku Indonesia VS Darurat Covid-19

Ada yang tak biasa tentang keadaan sekarang ini. Negeriku Indonesia bersama dunia sedang berjuang melawan virus corona atau Covid-19 sejak akhir tahun 2019 lalu. Indonesia sendiri baru diliputi kepanikan tentangnya di awal Maret 2020. Ketika bapak Jokowi, presiden kita, mengumumkan dua orang di antara kita sudah terdampak virus ini.  Hari ini, menjelang akhir Maret 2020. Saya pribadi mendadak diserang sakit kepala teramat sangat. Setelah sore harinya  WA pribadi dan grup saya geger dikarenakan Prof. Idrus Paturusi, Rektor Kampus UNHAS pada masanya, termasuk dalam 13 orang positif Covid-19 di SulSel per 25 Maret 2020 ini. Seseorang seperti beliau pun sudah terdampak. Bersama 12 orang lainnya, yang bisa saja adalah mereka yang ditemui di keseharian kita. Semoga mereka lekas pulih, dan badai virus ini segera berlalu. Saya mengkhawatirkan banyak hal. Terutama, keluarga dan kerabat, pastinya. Yang mana, setelah menikah dan hidup dengan keluarga kecilku sendiri, saya tak lagi...

Sebuah Surat sebagai Istri

Menikah tidaklah semudah tidur dan terbangun di sisimu setiap harinya Menikah bukanlah hanya tentang pendapatanmu yang harus rela kau bagi denganku Ya, kau harus mau berbagi sebagai lelakiku Sepertiku, perempuan yang harus rela membagi waktu-waktu bersamamu Ketika yang kulakukan bukan lagi hanya tentang diriku sendiri Meski terkadang, mengurus diriku sendiripun terasa sulit Banyak hal yang mungkin terlihat berantakan di matamu, Sayang Sepertiku yang harus memaklumi apa yang ada padamu Tapi, yakinlah menjelang tiga tahun kita bersama Aku dan juga kamu masihlah harus banyak belajar Belajar sabar, belajar mengertimu seperti kau mengerti aku Tiga tahun bersamamu, ternyata kita sudah berubah banyak Meski sudah lima tahun mengenalmu, tapi dua tahun pertama tak ikut dihitung Sebab 'berpacaran' hanyalah sebuah kamuflase untuk saling mengundang di kehidupan kita masing-masing ✌ Sedari awal meminangku, banyak hal yang coba kau ajarkan pada istrimu yang bengal ini Berm...

Perempuan Tangguh

Pernah saya dan beberapa teman mendapat julukan ini. bersama tiga teman seangkatan di kampus dan dua kakak di sana. Agak beresiko memang, dengan kata-kata itu. Karena sesungguhnya kami (sepertinya) hanyalah mencoba terlihat tangguh. Kami juga bukan superhero yang harus membantu kaum yang lemah. Apalah kami yang membantu diri sendiri saja sudah sulit. Atau itu hanya perasaanku saja. Pada akhirnya mereka jadi tangguh dengan cara mereka sendiri. Semoga aku pun sama. Update 2019... Tak semua dari mereka masih dekat denganku sekarang ini. Secara komunikasi, hanya dua dari mereka. Secara fisik, tak satu pun dari mereka dengan mudah kutemui saar ini. Apa jadinya kami kalau bertemu lagi? Mungkin akan mudah meski hanya bertanya kabar terkini tentang keadaan kami masing-masing. Agak merindukan mereka... Merindukan rasa tangguh seolah kami benar-benar tangguh Karena sesungguhnya saya hanya sedang rapuh saat ini Mungkin sedikit atmosfer di antara mereka bisa menularkan ketangguhan ...

Aku Kamu Punyaku Punyamu

Rasa minder itu masih ada Ketika melihat mereka punya Apa yang tak saya punya Ketika mereka bisa Apa yang tak saya bisa ... Sedih itu wajar untuk kita sebagai manusia. Biar bisa menghargai apa yang kita punya. Begitu pun dengan penyesalan. Biar kita bisa memilih untuk tak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan. Dan, di sana lah saya sekarang. Separuh sedih, separuh menyesal. Mencari teman bercerita, tapi seperti ada yang salah. Ceritaku tak menarik untuk didengar, mereka mungkin bosan dengan ceritaku, atau saya yang pernah tak memberi kesempatan bercerita ketika mereka butuh. Teman hidup, alhamdulillah saya punya. Tapi, teman dekat sepertinya sedang jauh... AH! Itu yang terjadi ketika gadget yang kau punya, hanya kau jadikan alat pencari informasi orang-orang di sekitarmu. Bukannya malah berkomunikasi dengan mereka. ... Sekian, celotehan awal tahun masehi! ... Pada dasarnya, saya banyak bersyukur Dan memang sudah seharusnya begitu Karena, saya juga punya Yang merek...

Kenapa masih menulis?

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Teman, pernah ada seseorang yang lebih suka dalam diamnya daripada berbicara. 'Katanya' lebih suka menulis daripada berkata langsung dalam bicaranya. Mungkin, karena dia belum menemukan teman yang cocok dalam berbicara, bercerita. Atau, dia belum cukup percaya dengan dirinya sendiri juga dengan teman bicaranya. Dia pasti punya kesulitan tersendiri sampai lebih suka bertahan dalam pikirannya sendiri, daripada membaginya, mencari teman yang bisa membantah atau mengusik apa yang dianggapnya benar. Ya, dia seegois itu. Sampai sekarang pun tak berubah dengan keras kepala yang sama. Alasan sebenarnya, sesederhana itu. Ada perempuan pendiam, yang tak suka kalau kau bantah. Tak suka dipaksa sepemikiran denganmu. Tak bisa terima kalau pemikirannya tidak diterima olehmu. Itu saja. Lalu, kenapa dikatakannya kalau "Lebih baik dituliskan saja."? Karena dalam tulisannya, kau tak bisa membantahnya sampai habis kau baca tulisan itu. Atau, bisa jadi mala...

Tak Lagi Sama

Apa yang kau miliki sekarang, bisa jadi bukanlah yang pernah kau harapkan dulu. Apa yang tak lagi kau miliki sekarang, mungkin malah jadi yang sangat kau harapkan dulu. Hidup memang begitu. Hidupku dan hidupmu. Saya dan kamu berbeda nasib, berbeda jalan hidup. Ada saya yang memilih membangun keluarga lebih dulu, ada yang membangun karir dan masa depan yang semoga sesuai inginmu, ada yang juga sibuk bekerja menata masa depan, dan yang lainnya berusaha mengimbangi karir dan keluarga kecil yang belum lama ini dinikmatinya. Saya menikmati apa yang saya punya, begitupun kuharap kalian sama. Bukan tak mau berharap kehidupan yang lebih baik dari kerja kerasku sendiri. Yakinlah, saya juga menginginkan hal yang sama. Meski rasanya makin sulit ketika diberi pilihan untuk meninggalkan pangeran kecilku, lebih dari setengah hari yang kupunya. Ya, saya juga berniat untuk bekerja suatu hari nanti, sama seperti kalian. Menunggu waktu saja. Dan, hati yang ikhlas menjalani rutinitas yang berbeda n...