Langsung ke konten utama

Postingan

Teman Jauh (Jarak, Waktu, dan Langkah Hidup)

Teruntuk saudari tak sedarahku, yang jauh di negeri orang. Ini semacam surat yang sangat ingin kusampaikan padamu. Dari sekian banyak hal yang tak lagi kita saling ceritakan. Dari sekian banyak berita yang tak lagi kita saling bagikan. Terpaut jauhnya jarak, juga perbedaan waktu dua-tiga jam (tergantung musim) (lupa kenapa) , kesempatan santai kita tak sama. Atau bisa juga karena takut saling mengganggu dengan adanya perbedaan langkah hidup kita hari ini. Kau tahu, meski sedih kau tak lagi bisa langsung kupeluk untuk beberapa saat ini, saya teramat senang kau jauh di sana. Melakoni apa yang kau kejar selama ini. Meski itu hanya satu dari apa yang kau cita-citakan, berkarir di negeri orang. Meski kecewa dan lelah mendatangimu karena beberapa hal yang tak sesuai inginmu. Saya masih senang kau ada di sana. Merasakan langsung apa yang sangat kau ingini di sana. Saya tahu, kau lelah dan rindu melepas lelahmu di sini. Di antara kesempatan untuk berkarir tak jauh dari halamanmu, dengan sed...

Usang Asing

Jangan terpaku pada judulnya. Hanya kata acak di kepalaku. Apa kabarmu? Kalimat sederhana yang rasanya begitu sulit diucap pada teman sepertimu. Mungkin, karena terlalu lama tak pernah bercakap denganmu. Juga mungkin karena tak ada lagi yang penting dalam percakapan kita. Padahal, kita pernah berada dalam lingkungan sederhana dengan kalimat sederhana dalam pergaulan sederhana kita. Bertemu dalam ramainya pertemanan. Mengobrol tentang si teman dan temannya yang lain lagi. Atau tentang temanmu yang pernah akrab denganku dan temanku yang juga akrab denganmu. Teman-teman yang sama menyenangkannya denganmu. Kau itu inspirasi, salah satu motivator kami. Mungkin juga, kau salah satu penyebab eratnya lingkungan pergaulan itu. Kau mengikat kita tanpa tuntutan. Dengan segala kepercayaanmu juga sikap baikmu. Akhirnya menjadikan kami meneruskan kebaikan demi kebaikan kepada mereka yang menjadi teman berikutnya, seterusnya. Ada janji yang belum kupenuhi padamu. Tentang tulisan yang p...

(Muak dengan) Rindu (Jangan Baca Ini)

Hari ini, 22 Oktober 2015. Jam 3 lewat 11 menit ketika saya mulai menuliskan ini. Tidak ada yang spesial sebenarnya. Hanya ingin menandai, hari ini, beberapa hari sebelumnya, bukan... dalam waktu yang sudah sangat lama. Saya seperti kehilangan satu dan lain hal. Entah apa. Seringkali, kehilangan itu juga kita sebut rindu. Entah lebih pantas yang mana kali ini. Bisa rindu atau juga kehilangan. Intinya, ada saja yang tak lengkap rasanya. Pada satu fase hidup yang sedang berjalan saat ini, masih saja ada yang kurang, tak lengkap. Padahal, sehari-harinya saya dekat dengan keluarga. Ibu yang tak lagi bertugas jauh di pulau kecil sana. Komunikasi dengan bapak, mulai berangsur membaik. Ponakan lelaki mungil yang sehari-harinya banyak menyita perhatianku, dari satu-satunya kakak kandung perempuan kesayangan yang sekarang tinggal serumah lagi dengan saya. Juga seorang lelaki kesayangan yang selalunya bikin perasaan terjun bebas dan melayang. Tapi, masih juga kurang. Saya rindu menulis. Rindu ...

Untuk Paris dan Jo

Singkat saja kali ini. Aku akan menyusul kalian. Seminar proposal. Segera. Segera, setelah bulat tekadku menghadap ibu PA cantik dan baik hatinya. Serta bapak Ketua Jurusan yang tak kalah baiknya. Ttd., Rizka dan sisa-sisa semangat demi menghabiskan 08 yang tersisa di sisa-sisa akhir kesempatan bergelar Sarjana Ilmu Komunikasi, eh, Sarjana Sosial dari kampus merah.

"Apa Mimpimu?"

Banyak yang bertanya, "Apa masalahmu sampai lama begini kelar kuliahnya?" Yakin mau tahu? Karena jujur saja, saya sendiri tak banyak berpikir soal itu. Atau lebih tepatnya, saya tak banyak berpikir lagi selama tiga tahun belakangan. Kalau hidup ini bagaikan aliran sungai yang bermuara entah kemana, maka saya sudah hanyut di dalamnya. Tanpa sedikitpun usaha untuk memilih hendak bersinggah kemana. Saya punya seorang teman, yang sebenarnya bisa disebut motivator dan memahami psikologi seseorang. Satu waktu dia menanyakan satu hal yang kemudian menjerat kami dalam pembicaraan panjang dan dalam. Dari sini saya juga tersadar, kau tidak akan teringat kalau kau sudah melupakan sesuatu kalau tak ada yang menanyakannya. "Apa mimpimu?" Saya sendiri tak lagi mengandalkan mimpi untuk membuat hidupku bertahan. Sebut saja dia sudah hancur. Saya tak punya tujuan, dan ini serius. Saya pernah bermimpi menjadi seorang penulis. Lalu dia menghilang dengan sendirinya. Saya juga ta...

Takdir Punya Waktunya Sendiri

Bukan tentang kemapanan yang kita kejar, lalu memutuskan untuk bersama. Bukan tentang bahagia seterusnya, lalu selalu ingin bersama. Hanya saja, sebagian waktu yang tidak kita bagi bersama, hanya akan dihabiskan dengan pemikiran tentang, Kapan kita akan bersama lagi? Takdir punya waktunya sendiri. Sebagaimana kita yang hanya dibiarkan bertemu satu kali di September 2013. Mungkin sebagai pertemuan awal untuk memperkenalkan, Orang itu yang akan terus membagi waktunya denganmu, nanti. Kemudian pertemuan yang tak kita sengaja. Tanpa pernah kita rencanakan. Tanpa pernah menjadi sebagian harapan yang ingin kita wujudkan. Kita bertemu lagi akhirnya, 'kan? Bahkan komunikasi yang timbul-tenggelam tidak pernah menjadikan apa yang kita alami sekarang ini, terlintas di pikiran. Kita sedang bersama sekarang. Seperti yang sudah ditakdirkan Tuhan yang tak pernah kita tebak sebelumnya. Seperti itu juga bagaimana kita bersatu dan berpisah nantinya. Tak usah menebak. Tapi, tak lupa berja...

SEGERA!~

"Pikirkan kami yang selalu menanyakan, Bagaimana kabarnya Rizka? " Saya tahu, kalian tidak ingin saya menanggapi pernyataan itu dengan begitu melankolisnya. Tapi, serius. Saya terharu dan masih juga merasakan kehangatan yang sama seperti kali pertama saya dan teman-teman disambut di tempat itu. Ruang kecil di Lantai 2 FIS IV yang kita sebut KOSMIK. Yang meski berpindah tempat yang lebih mini lagi, tetap kita sebut rumah kecil atau rumah kedua kita. Karena memang, tak butuh sekedar dinding, lantai, dan atap untuk kita sebut ruang berbagi kita. Saya pernah merasa kehilangan akan kebersamaan itu. Sampai merasa terasing dan memilih menunduk setiap berjalan di koridor kampus, bertemu dengan wajah-wajah yang tak saya kenali. Tapi, tetap saya usahakan membalas sapa dan senyum. Karena adik-adik, yang saya yakin sebagian sama tak saling mengenali, juga tetap menyapa dan tersenyum hanya karena saya salah satu kakak di sana. Tanpa lupa, di saat yang sama saya juga adik dari kakak-ka...