Langsung ke konten utama

Postingan

Untuk Paris dan Jo

Singkat saja kali ini. Aku akan menyusul kalian. Seminar proposal. Segera. Segera, setelah bulat tekadku menghadap ibu PA cantik dan baik hatinya. Serta bapak Ketua Jurusan yang tak kalah baiknya. Ttd., Rizka dan sisa-sisa semangat demi menghabiskan 08 yang tersisa di sisa-sisa akhir kesempatan bergelar Sarjana Ilmu Komunikasi, eh, Sarjana Sosial dari kampus merah.

"Apa Mimpimu?"

Banyak yang bertanya, "Apa masalahmu sampai lama begini kelar kuliahnya?" Yakin mau tahu? Karena jujur saja, saya sendiri tak banyak berpikir soal itu. Atau lebih tepatnya, saya tak banyak berpikir lagi selama tiga tahun belakangan. Kalau hidup ini bagaikan aliran sungai yang bermuara entah kemana, maka saya sudah hanyut di dalamnya. Tanpa sedikitpun usaha untuk memilih hendak bersinggah kemana. Saya punya seorang teman, yang sebenarnya bisa disebut motivator dan memahami psikologi seseorang. Satu waktu dia menanyakan satu hal yang kemudian menjerat kami dalam pembicaraan panjang dan dalam. Dari sini saya juga tersadar, kau tidak akan teringat kalau kau sudah melupakan sesuatu kalau tak ada yang menanyakannya. "Apa mimpimu?" Saya sendiri tak lagi mengandalkan mimpi untuk membuat hidupku bertahan. Sebut saja dia sudah hancur. Saya tak punya tujuan, dan ini serius. Saya pernah bermimpi menjadi seorang penulis. Lalu dia menghilang dengan sendirinya. Saya juga ta...

Takdir Punya Waktunya Sendiri

Bukan tentang kemapanan yang kita kejar, lalu memutuskan untuk bersama. Bukan tentang bahagia seterusnya, lalu selalu ingin bersama. Hanya saja, sebagian waktu yang tidak kita bagi bersama, hanya akan dihabiskan dengan pemikiran tentang, Kapan kita akan bersama lagi? Takdir punya waktunya sendiri. Sebagaimana kita yang hanya dibiarkan bertemu satu kali di September 2013. Mungkin sebagai pertemuan awal untuk memperkenalkan, Orang itu yang akan terus membagi waktunya denganmu, nanti. Kemudian pertemuan yang tak kita sengaja. Tanpa pernah kita rencanakan. Tanpa pernah menjadi sebagian harapan yang ingin kita wujudkan. Kita bertemu lagi akhirnya, 'kan? Bahkan komunikasi yang timbul-tenggelam tidak pernah menjadikan apa yang kita alami sekarang ini, terlintas di pikiran. Kita sedang bersama sekarang. Seperti yang sudah ditakdirkan Tuhan yang tak pernah kita tebak sebelumnya. Seperti itu juga bagaimana kita bersatu dan berpisah nantinya. Tak usah menebak. Tapi, tak lupa berja...

SEGERA!~

"Pikirkan kami yang selalu menanyakan, Bagaimana kabarnya Rizka? " Saya tahu, kalian tidak ingin saya menanggapi pernyataan itu dengan begitu melankolisnya. Tapi, serius. Saya terharu dan masih juga merasakan kehangatan yang sama seperti kali pertama saya dan teman-teman disambut di tempat itu. Ruang kecil di Lantai 2 FIS IV yang kita sebut KOSMIK. Yang meski berpindah tempat yang lebih mini lagi, tetap kita sebut rumah kecil atau rumah kedua kita. Karena memang, tak butuh sekedar dinding, lantai, dan atap untuk kita sebut ruang berbagi kita. Saya pernah merasa kehilangan akan kebersamaan itu. Sampai merasa terasing dan memilih menunduk setiap berjalan di koridor kampus, bertemu dengan wajah-wajah yang tak saya kenali. Tapi, tetap saya usahakan membalas sapa dan senyum. Karena adik-adik, yang saya yakin sebagian sama tak saling mengenali, juga tetap menyapa dan tersenyum hanya karena saya salah satu kakak di sana. Tanpa lupa, di saat yang sama saya juga adik dari kakak-ka...

Perasaan Yang Entah Apa

Untuk temanku yang jauh di negeri orang sana, Rukmini Rasyid. Ini bulan ketiga kau tak lagi menjejakkan kaki di kotamu ini, Makassar. Bahkan negerimu, Indonesia. Saya yakin kau tak pernah lupa tanah air kita ini. Meski kau meninggalkannya untuk mencicipi mimpimu yang lain, berkunjung ke negeri lain di luar sana. Semoga kau masih dan selalu baik-baik saja. Do'a yang sama selalu saya mohonkan untukmu di sana. "Ingat, sendirian nanti kau di sana." Kalimat tanpa saringan yang saya hadiahkan padamu di malam sebelum kau pergi. Bukan untuk mengingatkan kalau kau akan kesepian di sana. Karena saya yakin kau tak akan kesepian. Kau mudah berteman. Juga mudah membuat orang banyak menyukaimu yang sederhana, mudah berteman, baik hati dan menyenangkan. Semoga selalu saja begitu. Saya hanya sangat mengkhawatirkanmu. Saya tak lagi bisa menemanimu pulang di gelapnya malam. Berjalan bersamamu sepulang dari entah di mana kita sempat berpijak. Kita selalu berbagi itu. Menyusuri setengah j...

(Pe)(Me)Rindu

Rindu, tapi enggan bertemu. Rasanya lebih baik seperti itu. Ingin melihatmu, tapi memilih untuk tak menemuimu. Itulah kenapa mengulur waktu saat akan bersamamu, jadi hal yang paling sering kulakukan saat ini. Tidak kah kau rasakan rindu yang sama? Selalu ingin denganmu, kau tahu jelas itu. Tapi, kau tahu aku manusia yang paling mudah bosan. Dan tak menemuimu adalah usahaku yang paling besar untuk mencegah bosan itu datang. Meski, ya... bertemu denganmu adalah hal yang paling menyenangkan yang kupunya saat ini. Tapi, saya lebih memilih menunda kesenangan itu datang. Rutin merasakan senang, hanya akan membuat kesenanganku itu jadi hal paling membosankan yang kupunya. Sesekali, sesaknya rindu jadi hal yang paling kubutuhkan untuk membunuh bosanku. Juga untuk mengingatkanku tentang keindahan dunia yang jarang kuperhatikan saat bersamamu. Tapi, tenang... kau masih yang terindah. Dan keindahan dunia yang lain, tak pernah sanggup membuatku lupa kamu. Terus mengingatmu saat tak bersamamu, ju...

Seseorang yang Saya Sebut Motivator Pribadi

Saya percaya satu mitos yang saya buat sendiri. Cerita saya dengan seseorang, takkan berhasil ketika saya coba menuliskannya. Hanya karena itu, saya tak banyak menuliskan tentang dia, motivator pribadi saya. Bukan karena tak percaya kalau dia akan terus ada bersamaku. Hanya saja, rasa takut kehilangan dia begitu besar. Sampai logikaku tak bisa bekerja dengan baik. Bahwa mitos itu harusnya hanya jadi sekedar mitos. Jadi, mari membuktikannya. Lagipula, kalau kelak dia tak jadi denganku, itu takdir dan bukan karena pengaruh mitos ini kan? Lalu, mulai dari mana saya menuliskannya? Rasanya dia terlalu nyata. Sampai lebih baik saya berbicara dengannya saja untuk memberitahu apa yang saya rasa. Daripada sekedar menuliskannya. Hmmm... seperti itu lah. Namanya Abdul Rahim. Lelaki yang saya sebut dengan, hmmm... tebak saja sendiri. *blushing* Ya, ini pertama kalinya saya merasakan bahagia macam ini. Abang ini lelaki pertama yang menemani saya dan disebut pacar. Meski lidah bahkan jariku m...