Langsung ke konten utama

Postingan

Ketika Saya Berencana Fokus

Kadang sesuatu terjadi tanpa direncanakan. Menurutku seperti itulah hidup. Yang terjadi, biasanya tak sama dengan yang kita rencanakan. Karena hidup kita sendiri, bahkan bukan kita yang memiliki. Pemiliknya, Sang Pencipta kita. Semua yang terjadi tentu atas kehendak-Nya. Kadang seperti yang kita mau, kalau memang itu yang terbaik. Lebih sering lagi, berbeda dengan yang kita mau. Karena kita sendiri bahkan tak tahu pasti mana yang memang terbaik untuk diri kita. Dua bulan terakhir, waktu yang tersulit bagi saya untuk bisa berkonsentrasi mengerjakan tugas akhir. Ya, anggap saja ini sekedar alasan sepele yang saya punya. Sekuat tenaga harus bisa mengalihkan pikiran dari... ehmmm... hal yang harusnya tak begitu penting (sekarang ini). Ada hati yang harus direkatkan kembali setelah sedikit patah karena kekecewaan kemarin. Ada harapan yang harus benar-benar dihentikan karena tak ada jalan bagi harapan itu bertumbuh lagi. Ada harapan baru yang mesti ditumbuhkan agar warna-warni bunganya b...

Confession #3

Ada seorang perempuan yang mungkin sering membuatmu kesal. Kesal karena sifat keras kepalanya. Sampai kau merasa dia tak pernah membutuhkanmu. Dia yang selalu bisa membuka sendiri botol minumannya. Kalau pun sulit, dia tak akan meminta bantuanmu sampai dia bisa membukanya. Dia yang akan menolak tawaranmu untuk membantu memarkir sepeda motornya. Kalau pun sulit, dia masih juga menolaknya sampai dia selesai melakukannya. Dia yang masih segan kau bayarkan makan dan minumnya. Sampai kau mungkin merasa dia benar-benar tak membutuhkanmu. Semua hanya karena dia terbiasa melakukan semuanya sendiri. Sama sekali bukan untuk menolak bantuanmu. Apalagi menjatuhkan harga dirimu sebagai lelaki. Dia masih tak terbiasa dengan kehadiranmu. Belum terbiasa membagi bebannya denganmu. Juga karena tak pernah membiarkan dirinya tergantung dengan kehadiran orang lain. Tapi, salahkah kalau harus terus bersikap seperti biasanya? Seolah terlalu kuat dan sama sekali tak membutuhkanmu. Ataukah harus berpura-...

Tentang Seorang Teman Baik

Biarkan saya menulis sesuatu tentang seorang teman. Teman yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri. Kami memang mungkin tak begitu dekat. Tak berkabar setiap harinya. Dan, mungkin saja bukan hanya saya yang dekat dengannya. Dia hanya sering bersikap baik ke banyak teman. Dan, saya hanya punya sedikit teman yang begitu dekat dengan saya. Maaf, saya orangnya mungkin cukup terbuka ke banyak orang. Tapi, masih sedikit orang yang bisa kuanggap 'nyaman' berbagi cerita dengannya. Si teman ini salah satunya. Biar saya tulis tentangnya. Biar saya tetap ingat punya teman sebaik dia. Dia ini... (maaf, saya lebih suka tidak menuliskan identitas seseorang saat menuliskannya. Hehe) Dia termasuk orang pertama yang saya kenali di kampus. Selain tiga orang teman kuliah yang saya kenal dari waktu SMA dulu. Dia ini, satu dari dua orang yang saya temui di Baruga kampus dulu. Dan, satu teman yang lain juga masih jadi teman terdekat dan terbaik saat ini. Kenapa orang pertama yang kita temui ...

Ada Bahagia di Delapan November

Banyak yang berbahagia hari itu. Ada adik sepupu kesayangan dengan usia sebelas tahunnya. Juga kakak tersayang dengan tiga tahun berpasangan dengan sang kekasih. Mereka semua sangat berbahagia menyambut hari itu. Saya pun sama. Sebelum subuh hari, saat di mana seseorang memilih meninggalkan saya. Adik sepupu, Nabila panggilannya. Hari itu membuat kejutan di rumah kami. Setelah beberapa hari sebelumnya terus memaksa kami membelikan hadiah ini-itu untuknya. Ternyata, dia masih juga butuh perayaan. Tanpa diberi izin, dia memanggil beberapa teman terdekatnya ke rumah. Untung saja, ada persiapan kecil-kecilan yang sebenarnya hanya untuk keluarga. Dengan beberapa kado tambahan dari teman-temannya, jelas dia sangat berbahagia. Meski sederhana, hanya sajian nasi kuning, minuman dingin, dan kumpulan cerita sampai mereka lelah dan memilih pulang. Kakak-kakak tersayang, kakak Kiky dan kak Donald. Di ulang tahun ketiga pacaran mereka, ternyata tak melulu harus senang. Kesibukan kerja kakak dan...

Confession #2

Kau masih tak juga yakin Benarkah mulai menyukainya? Benarkah akan terus bertahan dengannya? Yang kau coba hanya, menjalaninya sebaik mungkin Beberapa hari setelah memutuskan bersama dengannya kau malah bertemu dengan seseorang yang pernah kau sukai Masih ada rasa... meski tak lagi ada harap Yang kau coba hanya, mengingatkan diri tentang dia di sana Kau tahu, sepertimu dia juga sama tak yakinnya Kalian hanya belajar menjalani apa yang kalian punya Kau sendiri, belajar memberi dan menerima yang ada Juga menjaga sikap, agar tak terlalu mengganggu hidupnya Kalian masih sangat baru, bukan? Mungkin jadinya wajar saja kalau mesti sekaku ini Tapi, juga manis ketika sepertinya kalian menikmati keadaan Sekarang, kau yakin yang kau bisa hanya bertahan untuknya Kau masih tak juga tahu jelas Seperti apa rasa yang dia punya untukmu? Untuknya sendiri, kau merasa senang bisa bersama dengannya Meski, sesekali masih ada ragu Kau hanya belajar menyukai Dan sepertinya tak ada ya...

Untukmu, Hati

Katanya, kita bisa berdosa kalau dengan sengaja sudah menyakiti diri sendiri. Kalau menyakiti hati termasuk diantaranya, itu artinya saya menanggung dosa yang sama besarnya. Ya, sepertinya saya sudah dengan sengaja terus mencicipi sakit hati. Tahu sesuatu itu hanya akan memperburuk keadaan hati, tapi tetap juga saya teruskan. Saya hanya mencoba memberi kesempatan. Kepada sang harapan untuk tetap hidup. Padahal, saya sendiri sudah seperti berdiri di tepi jurang yang bebatuannya rapuh. Kemungkinan besar saya hancur ketika terjatuh. Tapi, tetap saya memilih bertahan. Mengandalkan keajaiban untuk datang menyelamatkan, meski dengan kemungkinan yang nyaris tak terlihat. Salahkah untuk berharap banyak? Ada pepatah, "Sekeras-kerasnya batu bila tertimpa hujan akan retak juga." Maka, entah sekeras apa hal yang kita punya untuk ditaklukkan. Kita selalu punya harapan untuk menghancurkannya. Setidaknya, membuatnya sedikit retak. Apalagi kalau kita punya hati yang tulus untuk melulu...

Dunia Barumu

Sesuatu yang baru untuk hidupmu yang tampak membosankan. Atau, memang selalu kau rasa membosankan? Aneh memang, tiba-tiba saja memiliki sesuatu untuk kau perhatikan. Juga untuk membiasakan diri diperhatikan berlebihan. Setidaknya, ini memang yang pernah sesekali melintas di pikiranmu, bukan? Nikmatilah... Meski dengannya, kalian memulainya dengan sebuah ketidakyakinan. Kau yang tak yakin bisa mulai hubungan yang sangat baru bagimu ini. Juga dia yang tak yakin dengan dirinya sendiri yang sudah lama tak menjalin hubungan seperti ini. "Mau belajar denganku?" katanya lagi. "Boleh, iya, mau..." katamu masih dengan ketidakyakinan. Kalian pun memulainya. 22 Oktober 2013. Meski kau tak ingin mengingat waktunya. Yang mungkin saja akan membuatmu jadi orang menyebalkan di kemudian hari. Sekarang yang kau bisa hanya menikmatinya. Mencoba percaya pada dirimu dan dirinya. Mencoba memberi kesempatan pada hidup, untuk memberimu warna lain yang selama ini kau anggap cukup membo...