Langsung ke konten utama

Postingan

Untukmu, Hati

Katanya, kita bisa berdosa kalau dengan sengaja sudah menyakiti diri sendiri. Kalau menyakiti hati termasuk diantaranya, itu artinya saya menanggung dosa yang sama besarnya. Ya, sepertinya saya sudah dengan sengaja terus mencicipi sakit hati. Tahu sesuatu itu hanya akan memperburuk keadaan hati, tapi tetap juga saya teruskan. Saya hanya mencoba memberi kesempatan. Kepada sang harapan untuk tetap hidup. Padahal, saya sendiri sudah seperti berdiri di tepi jurang yang bebatuannya rapuh. Kemungkinan besar saya hancur ketika terjatuh. Tapi, tetap saya memilih bertahan. Mengandalkan keajaiban untuk datang menyelamatkan, meski dengan kemungkinan yang nyaris tak terlihat. Salahkah untuk berharap banyak? Ada pepatah, "Sekeras-kerasnya batu bila tertimpa hujan akan retak juga." Maka, entah sekeras apa hal yang kita punya untuk ditaklukkan. Kita selalu punya harapan untuk menghancurkannya. Setidaknya, membuatnya sedikit retak. Apalagi kalau kita punya hati yang tulus untuk melulu...

Dunia Barumu

Sesuatu yang baru untuk hidupmu yang tampak membosankan. Atau, memang selalu kau rasa membosankan? Aneh memang, tiba-tiba saja memiliki sesuatu untuk kau perhatikan. Juga untuk membiasakan diri diperhatikan berlebihan. Setidaknya, ini memang yang pernah sesekali melintas di pikiranmu, bukan? Nikmatilah... Meski dengannya, kalian memulainya dengan sebuah ketidakyakinan. Kau yang tak yakin bisa mulai hubungan yang sangat baru bagimu ini. Juga dia yang tak yakin dengan dirinya sendiri yang sudah lama tak menjalin hubungan seperti ini. "Mau belajar denganku?" katanya lagi. "Boleh, iya, mau..." katamu masih dengan ketidakyakinan. Kalian pun memulainya. 22 Oktober 2013. Meski kau tak ingin mengingat waktunya. Yang mungkin saja akan membuatmu jadi orang menyebalkan di kemudian hari. Sekarang yang kau bisa hanya menikmatinya. Mencoba percaya pada dirimu dan dirinya. Mencoba memberi kesempatan pada hidup, untuk memberimu warna lain yang selama ini kau anggap cukup membo...

Confession #1

Mendengarnya berkata, "Jadi, apa kau menyukaiku?" Setelahnya, mungkin itu diam terlama dalam jeda kau berbicara dengannya. Jelas, kau tak pernah bisa jujur tentang itu. Bukannya tak suka, tapi rasanya masih sulit untuk bisa menyukai seseorang yang berbahaya bagimu. Seperti ingin mendekati sesuatu yang seharusnya kau jauhi. Semacam anak kecil yang suka bermain kembang api. Tahu itu berbahaya tapi tetap saja senang memainkannya. Kau mungkin belum begitu menyukainya. Tapi, senang ketika tahu ada seseorang yang mendengarkan ketika kau butuh berbicara. Mencoba memperbaiki pemikiranmu yang kadang keliru. Membagi ceritanya denganmu seolah kau orang yang sangat dekat dengannya. Juga seseorang yang bisa kau percayakan untuk membicarakan hal-hal yang tidak kau bagi dengan yang lain. Kau luar biasa senang dekat dengan seseorang yang menenangkan sepertinya. Tapi, dia tak pernah tahu. Kalimat yang diucapnya pernah jadi kalimat yang paling kau harapkan terucap oleh seseorang yang lain...

Sedikit Introspeksi

Kadang butuh waktu yang terlalu lama. hanya untuk sadar dan menyesal atas salah yang pernah kau perbuat. Dua tahun, misalnya. Menyesal dua tahun ini pikiran melayang-layang tak jelas. Padahal tugasnya ya cuma kuliah. Mahasiswi malas. Bodoh. Pernah suka menulis. Bercita-cita jadi penulis. Lalu malas. Takut dikritik. Berhenti menulis. Tentulah kualitas tulisan jadi tak meningkat. Dulu berminat di fotograsi. Dikritik (non verbal) langsung ciut. Mogok pegang kamera. Bagaimana mungkin bisa jadi fotografer meski cuma pemula? Sangat berkeinginan bertemu, berteman, di lingkungan yang baik-baik. Tapi, imannya naik turun tak jelas. Kapan ketemunya sama orang baik-baik? Tak begitu pandai dan cukup baik untuk benar-benar berteman dengan yang lainnya. Dinding gengsi yang dibangun terlalu tinggi. Mereka pergi dan kau tak pernah bisa meminta mereka sekedar untuk tinggal lagi sejenak. Punya keterbatasan dalam menyampaikan ekspresi, rasa, dan pikiran. Sering disalah mengerti orang-orang. Mereka menjauh...

#tanpajudul

Ada rasa yang mungkin belum kau tahu adanya Entah kenapa... yang kubisa hanya mendiamkannya saja Padahal sudah mulai menyusahkanku Berwujud rindu tak tuntas yang menyesakkanku Mereka bilang, kau harusnya tahu Tapi, bisa apa jika menikmati waktu denganmu lebih menarik bagiku? Maaf... masih juga berdiam diri Sembari menunggu waktu menjauhkanmu dan takkan mempertemukan kita disini lagi

Kembali Berulang

Rasanya tetap sakit saat melihatmu bermain dengan yang lain. Ketika bukan aku yang menjadi perhatianmu. Waktu tak hanya aku yang dijaga olehmu. Apa ini?! Tak mungkin kembali suka kan? Apa tak cukup usahaku selama sembilan bulan untuk melupakan rasaku? Berhasil... Tapi, ketika rutinitas kembali mempertemukan kita. Rasa itu hadir lagi. ARGH!! Temanku bilang, "Kembali ke masa lalu berarti mengulang kesalahan yang sama." Ya, aku tahu. Tak seharusnya kupercayai kata-katanya. Toh dia kembali lagi dengan kekasih lamanya yang sudah pernah membuatnya nyaris menangis darah. Tak seharusnya rasa itu kembali lagi. Merusak segala pusat konsentrasiku. Mengaburkan titik fokusku. Mendinginkan hati sampai rasanya begitu menyakitkan. Kau tak perlu tahu itu. Aku hanya perlu belajar melewati waktuku dengan tak menganggapmu istimewa. Kita memang tak pernah istimewa, bukan? :)

Perjalanan NURANI KOSMIK 2012 (1)

Berkunjung ke tempat yang baru memang sangat menyenangkan. Rasa penasaran bisa membuatmu terlalu bersemangat. Kau bahkan sampai lupa menyiapkan diri dengan kondisi terbaikmu. Kurang istirahat padahal tahu kalau beberapa hari ke depan waktu istirahat otomatis berkurang. Pasti! Ya, beberapa hari kemarin saya sempat mengikuti NURANI KOSMIK adik-adik 2012. :) Ini semacam Bina Akrab kalau di tempat lain. Kami menyebutnya NURANI (Nuansa Radikal dan Unik). Menyenangkan! Meski juga harus dibayar dengan beberapa perjuangan. ;) Tak apalah. Setidaknya, ada lagi pengalaman luar biasa yang bisa saya ikuti bersama KOSMIK. :D Mulai dari... Packing ! Sehari sebelum NURANI berlangsung, saya masih belum mengabari orang serumah kalau saya akan menginap tiga hari ke depan di Lannying Agrowisata, Bantaeng, yang menjadi lokasi NURANI. Ibu saya sedang sibuk sampai saya lupa meminta izin kembali untuk pergi waktu itu. Kebiasaan saya, memang meminta izin jauuuuuuuh hari sebelum kegiatan berlangsung. Jadi...