Langsung ke konten utama

Postingan

Masihkah Aku Untukmu?

Selalu sama seperti ini Ada aku menunggumu pulang Kau yang tak pernah memilih datang Dan kita yang masih selalu kukenang Ada saat dimana aku memilih menyerah Memilih berbalik arah Menguatkan hati untuk tak lagi kembali Padahal sadar, selalu ada alasan untuk bersamamu lagi Dan, benar... ketika akhirnya tiba di ujung jalan Berbagai macam hal hadir sebagai alasan Mengingatkan diri, bahwa seharusnya ada aku disana Tetap menunggumumu dengan tenang dan penuh sabar Bisa jadi aku bodoh tak berakal Tetap berharap kau akan datang dan kita pun kekal Untukmu, aku hanya percaya satu hal Aku ada untukmu, meski entah kau untuk siapa @McD Pettarani 6.17 PM dibuat atas permintaan Tenri... :p

Menyesakkan Rasa

Cinta itu menyesakkanku Bukan saat gadis lain yang menjadi pilihanmu Tapi, saat kau tak butuh aku Dan aku tak boleh lagi memperhatikanmu Sayang ini menyesakkanku Bukan saat aku malah menyemangatimu mengejarnya, menipu diri melupakan rasaku Tapi, saat kau tak butuh lagi dukunganku Dan memilih berjalan sendiri tanpa pernah ada aku Rindu bisa menyesakkanku Bukan saat aku mengingat dia yang telah lalu Tapi saat kau ada di hadapanku Melihatku, tak menyapaku, dan memilih berlalu Kita pernah punya cerita Dengan cinta, sayang, dan rindu yang bersesakan Sekalipun kita tak lagi berada dalam satu cerita Melupakan rasa malah makin menyesakkan

Titik Cerah diantara Semangat yang Kelam

Saya dan Mini akhirnya berada di tangan dosen yang sama untuk hal Penasehat Akademik (PA) kami. Mini sendiri berencana menyelesaikan studi akhir tahun ini. Sementara saya masih ragu dengan alasan satu mata kuliah yang tersisa di semester depan. Entahlah bisa diurus tutup strata atau tidak nanti. Saya belum memikirkan itu. Dengan alasan mau mengurus bersama, Mini menyarankan saya untuk menyiapkan judul saya juga. *doh! Sudah dari sebulan lalu saya mencari judul. Tapi, masih malas menyentuh dan memikirkan kelanjutannya. Jadilah setiba di rumah saya lalu membereskan masalah judul yang akan dikonsultasikan. Saya begadang demi menyiapkan tiga judul (sesuai di blangko judul). Baru kali itu begadang saya ada manfaatnya. :p Keesokan harinya... Saya dan ibu PA janji bertemu jam 10 pagi di jurusan. Tapi, seperti biasa (yang belum bisa berubah) saya terlambat bangun! -_- Saat memeriksa HP beberapa lama setelah bangun, ternyata ada SMS dari ibu PA yang memajukan waktunya jadi setengah jam leb...

Ganti PA dong!!

Penggantian Penasehat Akademik (PA) mulai berlaku semester ini. Para PA yang diganti ini adalah dosen yang sedang melanjutkan studi mereka. Termasuk PA saya. Yeay!! :) Saya teramat senang akan adanya hal ini. Semacam titik cerah di antara kemalasan saya menyelesaikan studi. :p Siang itu, di kantor jurusan... Berbekal kertas KRS yang sudah siap dikonsultasikan pada PA saya sebelumnya. Saya menunggu Wilda, teman se-PA yang seingat saya juga butuh konsultasi. Rencananya, saya baru akan menghubungi PA saya, setelah bersama Wilda. Menunggu Wilda tanpa janjian sebelumnya. Dikarenakan sinyal im3 yang memburuk di area kampus, komunikasi kami tak berjalan lancar. Saya mengirimkan sms tanpa bisa menerima balasan dari Wilda. Sudahlah... menunggu sambil berbagi cerita dengan beberapa teman yang juga punya urusan di jurusan. Beberapa jam kemudian... Wilda datang dan memberitahu PA-nya sudah diganti. Begitu juga dengan Ahmad, teman se-PA kami yang lain. *Saya ditinggal sendiri dengan PA yang b...

Bergerak!

Libur panjang setelah KKN rasanya saya semakin malas berbuat apa saja. Sebenarnya ini bukan waktu untuk liburan panjang, tapi masa untuk menyelesaikan studi. Tapi, rasanya masih butuh waktu lama untuk itu. Masih ada kuliah yang perlu diselesaikan. :D Beberapa teman masih sering mengajak saya untuk bertemu akhir-akhir ini. Beberapa teman lainnya sedang sibuk fokus menyelesaikan studinya. *Ummm.. Armita Amelia juga ujian meja hari ini. :) Yang lain juga mengejar masa depannya bagi yang studinya sudah beres sementara ini. Sebenarnya masih banyak teman yang bisa ditemui saat sekali-sekali ke kampus. Tapi, rasanya begitu aneh. Mendapati mereka sibuk dengan urusan pribadi masing-masing. Sementara saya yang masih dalam ketidakjelasan judul tugas akhir merasa semakin tak enak hati melihat mereka berlalu-lalang. * nyesek . Tapi, saya tak sendiri. Masih ada teman-teman yang belum bergerak menyelesaikan studi. Juga adik-adik yang menemani di kampus. * hahaha Saya masih tetap disini. Memang s...

Hilang...

Rasanya semakin jauh saja. Masih saja aku terdiam disini tak tahu harus berbuat apa. Aku tak lagi disana. Diantara kalian. Bersenda gurau bersama meski aku hanya kebagian tertawanya saja tanpa pernah bisa membuat kalian tertawa. Meski aku hanya kebagian menjadi pendengar saja tanpa sempat menceritakan hal menarik pada kalian. Aku disini. Pada lingkaran yang tak lagi diisi kalian. Rasanya seperti di duniaku sendiri. Tersesat karena tak lagi menemukan kedamaian yang sama seperti saat ada kalian bersamaku. Aku tak lagi merasa kenal dengan suasana ini. Ini bukan tempat yang ada kalian disana. Atau, bukan aku yang kalian kenal yang mendatangi tempat itu. Selalu saja aku menyendiri. Lebih tepatnya merasakan sepi padahal ada kalian yang riuh ramai. Tapi, aku tak ada disana. Serupa tembok yang hanya menjadi saksi bisu kebersamaan kalian. Aku disana, tapi tak bersama kalian. Seperti ada aku dan kalian. Tak bisa menjadikan diriku bagian dari kita. Terlalu lama rasanya hingga aku kehilangan s...

Keluar!

Banyak hal yang mulai terlupakan. Sampai keteledoran di setahun kemarin seperti akan kembali terulang. Kebiasaan penundaan pekerjaan. Lalai tak ingat kewajiban. Ya, saya tahu akhirnya nanti akan seperti apa. Akan ada keadaan dimana semua dilakukan dengan terburu-buru. Hanya dilakukan apa adanya. Sebiasa mungkin. Tidak totalitas. Tidak maksimal. Apa ini yang saya harapkan sebagai seorang yang perfeksionis? Tentu tidak! Baru saja saya sadari, banyak hal yang terbengkalai. Dan hanya dikerjakan dalam keadaan yang serba minim. Tak cukup waktu. Hingga usaha yang dilakukan pun tidak pada jatah yang seharusnya. Saya menganggap ini gagal. Saya gagal menggunakan ilmu dan kemampuan yang saya punya. Saya tak punya cukup bukti untuk menggambarkan ilmu dan kemampuan saya lagi. Semua serba apa adanya. Ilmu dan kemampuan saya tak punya ruang untuk memiliki pembuktiannya. Bukan untuk dibuktikan kepada siapa. Hahahaha Saya hanya sedang merasa perlu mengukur ilmu dan kemampuan saya. Sekedar tahu bia...