Langsung ke konten utama

Postingan

Rasanya Ditinggalkan

Sangat sedih... Kupikir itu sudah cukup menggambarkan rasaku saat ini. Saat dimusuhi, dibenci, tidak disukai oleh orang yang pernah dianggap sahabat olehku. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Tapi, kita tak lagi saling menyapa. Kau bahkan memalingkan wajahmu saat seharusnya kita bertatapan. Sakit!!!! Mungkin tak sesakit rasamu kemarin saat mengalami pengkhianatanku. Mengecewakan percayamu saat membiarkanku bergabung dengan tim yang seharusnya menyukseskan karya final kita, di salah satu Mata Kuliah. Saya tak melihat tangisanmu kemarin. Tapi, langsung tahu siapa penyebabnya ketika pertama kali tahu itu. Saya sampai membuatmu menangis!!!! Saya hanya tersenyum ketika tahu perihal tangismu itu. Lalu, sempat berpikir untuk lompat saja dari lantai dua kampus saat itu juga. Ya, pikiran itu sempat terlintas begitu saja. Tapi, lalu luruh saat sadar saya belum cukup baik untuk pergi begitu cepat. Saya menyakitimu dan sama sekali tak menyadari itu kemarin. Dan, kupikir wajar saja kalau...

Menanti Waktu

Ada yang masih terjaga saat malam larut hingga subuh Seperti biasa, bukan menunggu siapa-siapa Hanya menunggu waktu menjemputnya Sayang yang ditunggu belum juga mau datang Kadang ada tanya, kenapa yang ditunggu tak juga datang? Lelah sudah dia bertahan Bertahan sendiri-sendiri dengan kawanan yang katanya bertahan bersamanya Lelah, sungguh... Kemudian sadar, Aku tak cukup baik untuk dijemput waktu sekarang... Teringat kata gurunya di sekolah dulu: Orang yang waktunya habis hanya orang yang jiwanya tak lagi seimbang Terlalu kelam-hitam. Atau juga terlampau suci-bersih. Aku sadar, belum jadi orang baik Masih abu-abu... bahkan abu-abu gelap Tapi aku juga tak rela pergi dalam keadaan hitam Tak sanggup menanggung siksa kelak

Tentang 'Shalat' pada Hafalan Delisa

*Mohon maaf sebelumnya sempat mogok menulis beberapa bulan. Semoga dimaafkan :) Hafalan Shalat Delisa Ya, itu judul sebuah buku best seller. Berlatar Tsunami Aceh 26 Desember 2004 lalu. Buku yang juga difilmkan dan ditayangkan sejak 22 Desember 2011 kemarin. Saya mendapat cetakan ke-XI-nya. Janji hadiah ulang tahun dari seorang sahabat. Tertunda 2 kali ulang tahun, memang. Tapi, tak apa. Hadiahnya justru datang di saat saya tak berharap diberi apa-apa lagi. Itu yang membuatnya lebih dari sekedar kejutan. :')Hadiah yang bahkan datang nyaris di kali ketiga ulang tahun yang dijanjikan. Seperti judulnya, buku ini bercerita tentang hafalan shalat seseorang. Seseorang yang belajar shalat di waktu yang tepat, saat ia masih kecil. Tak seperti kenyataannya sekarang pada banyak orang, atau sebut saja saya sendiri. Saya juga lupa kapan pertama kali bacaan shalat saya sempurna hafal. Saat kelas 6 SD saja, kepala sekolahku masih sempat menanyakan, "Kenapa belum shalat?" Kujawab...

Jatuh #1

"Kalau kita jatuh cinta, makan lebih enak, tidur lebih nyenyak.Pengennya senyum terus. Jalanpun seperti nggak napak, rasanya mungkin seperti terbang melayang." - Rama (Fauzi Baadila) #LOVE Yup, dia merasa seperti itu. Kecuali dalam hal, "tidur lebih nyenyak". Sebab dalam tidurnya pun dia masih sempat memikirkanmu. Ya, dalam mimpi. Mungkin, sebab terlalu sering dia memikirkanmu hingga turut melibatkanmu dalam mimpinya. Entah apa yang membuat kau terus bermain di pikirannya. Yang dia tahu dia harus sesegera mungkin memberi tahu seseorang tentang itu. Hingga akhirnya dia mengirim pesan singkat ke seorang temannya. Menceritakan tentang kebingungannya. Tentang sikapmu terhadapnya dan kebingungan ia menghadapi sikapmu itu. Kata temannya, "Jalani saja..." Ya, seharusnya dia cukup menjalaninya saja. Dengan itu dia bisa tenang. Tapi, yang terjadi malah kepanikan yang melanda dia. Tak tahu bagaimana harus bersikap terhadapmu. Tapi, seperti kata temannya. Bukank...

Yang Terlewatkan " Bloglicious Fun Makassar"

Bloglicious Fun Makassar memang sudah lewat. Tapi, izinkan saya menuliskan penyesalan saya yang sungguh tidak mengenakkan ini. Bloglicious Fun Makassar digelar Id Blog Network (IBN) di PKP UNHAS pada tanggal 21-22 Mei kemarin. Dan saya dengan cantiknya melewatkan event yang sangat menarik bagi para blogger ini. Padahal beruntung Makassar berkesempatan menjadi salah satu kota yang mendapatkan seminar+semi workshop dengan topik seputaran blogging. Dua setengah tahun nge-blog dan tidak ikut event beginian?! RUGI!! Tapi, untunglah saya punya beberapa teman yang hadir dan sempat menuliskannya di blog mereka. Salah satunya, Rizved. Dia sempat menuliskan bloglicious fun makassar versi rizved . Meski menambah rasa iri, apalagi dengan cerita lengkap dan foto-fotonya, tapi sukses mengurangi rasa penasaran saya akan situasi yang terjadi disana. Silahkan difollow blog-nya, dan dibaca+dikomentari postingannya. :))

Perbaikan :D

Meninggalkan adalah sebuah proses yang memisahkan kita dengan hal yang kita tinggalkan. Maka, ketika memilih untuk kembali, adalah bijak ketika ketika kita memulai dengan memperbaiki keadaan yang sempat kita tinggalkan itu. Jangan terlalu serius dulu!! :p Saya hanya ingin menuliskan tentang sekembalinya saya mengaktifkan blog ini. :D Meninggalkannya beberapa bulan, yang bagi saya terasa lama, membuat saya merasa bersalah. Bukan hanya soal menulis. Saya merasa bersalah karena meninggalkan kebiasaan saya untuk membaca postingan dari blogger lainnya . :'( Ya, itu kebiasaan saya. Kebiasaan yang paling banyak menyita waktu saya ketika koneksi internet terhubung.  Kali ini saya menyusun kembali bloglist yang ada di sidebar. Banyak tambahan sehingga daftarnya terlihat begitu panjang.Tapi, tak apalah. Asalkan masih terlihat seimbang. Saya suka keseimbangan. :) Menyusunnya membutuhkan waktu lebih banyak daripada membuat postingan ini. Tak terlalu penting, memang. Hanya ingin menulis...

Lagi-lagi Memulai Kembali

Saya kembali lagi berniat mengisi blog ini. Setelah kemarin sempat tergoyahkan oleh pendapat beberapa teman. Ya, saya sangat mudah terpengaruh. Saya lalu menganggap semua yang tertuliskan kemarin adalah kebodohan. Saya ditegur beberapa teman. Katanya, blog ini hanya berisikan curahan hati. Mungkin tak banyak berguna. Tapi, bukankah pernah saya katakan, "beginilah diriku"? Ya, seharusnya saya tak lupa itu. Ini memang diri saya. Dan tak seharusnya juga saya tidak menganggap teguran beberapa teman itu tak penting. Seharusnya itu malah menjadi pemicu agar blog ini tak melulu berisikan curahan hati. Maaf, saya melupakan itu. Dan... disinilah saya. Kembali hadir setelah sempat merubah alamat dan mengatur sedemikian rupa, agar blog ini kemarin hanya bisa dilihat oleh saya sendiri. Hhe. Andai saya tahu dari dulu kalau cara itu ada, takkan saya hapus blog yang terdahulu. Saya juga sempat membuat Semut Hijau yang lain . Tapi, kalau dipikir-pikir, sehati-hati apapun saya mema...