Langsung ke konten utama

Postingan

Hidup Bercerita!!

Pernah merasakan tidak punya pegangan untuk mengabadikan cerita?? Ya, itu saya alami beberapa minggu terakhir. Keadaan yang sangat menyesakkan ketika ingin mengabadikan cerita tapi tak pernah bisa. Kalau tidak ingin diabadikan sebenarnya bisa saja. Bercerita dalam hati, sehingga yang tahu hanya saya dan Dia saja. Tapi, ingatanku terlalu rawan terlupakan. Jadi, bisa-bisa tidak meneruskan cerita yang sama seperti yang kuceritakan di awalnya. Oh, iya... banyak hal yang membuat cerita itu tidak terabadikan... Satu... Laptop rusak. Entah terserang virus apa, sampai-sampai terinstall ulangpun tak bisa. Baru coba diperbaiki oleh seorang teman. Masih sementara mencari teman-teman yang lain untuk memperbaikinya. Ada yang bersedia?? :) Kedua... Posting blog lewat ponsel?? Ponsel menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Susah terkoneksi ke internet. :( Tiga... Ada fitur notes di ponsel saya!! Yippie!! :)) Pengabadian cerita terlampiaskan disini. Tapi... Empat... Si ponsel tipe 5000 itu rusak!! :'( ...

Keadilan bagi Sulung dan Bungsu

Okai... Juni ini pengeluaran besar dilakukan oleh ibu. Maaf, bun... Kedua putrimu yang tak tahu diri selalu saja menyusahkanmu. Dimulai dari pendanaan study tour beserta pelengkapnya. Mungkin, bagi sebagian orang jumlah itu tak banyak, tapi sangat berat bagi orang tua tunggal sepertinya. Meski dibantu sama ayah sedikit. Hhe Ditambah lagi, pembelian ponsel baru untuk si sulung, atas dasar asas keadilan. Adil bagi kedua putrinya, tapi baginya?? Memang sejak kecil mereka dididik untuk bersikap adil. Lebih tepatnya, ssi bungsu yang selalu menuntut agar orang lain, khususnya kedua orang tua mereka, memperlakukan mereka secara adil. Dibelikan ini kalau si sulung dibelikan ini juga. Diberi itu jika si sulung diberi itu juga. Bukan hanya dalam bentuk materi, tapi juga perlakuan. Misalnya, si sulung sudah pernah pergi atau diajak ke suatu tempat, maka sebagai manusia yang menjunjung tinggi nilai keadilan, si bungsu menuntut untuk dibawa ke tempat yang sama meski tak pernah menuntut kapan tepatn...

Lari dari Kenyataan

"Memang lari dari kenyataan itu pilihanku. Terserah orang mau melihat sikapku, hanya seorang pengecut..." - Ada Band - Ya, pengecut. Dan cenderung sering lari dari kenyataan. Terlalu takut menghadapi kenyataan yang menegangkan. Terlalu sering melarikan diri. Seolah masalah bisa selesai begitu saja. Padahal sadar betul, masalah yang ada hanya ditunda tidak diselesaikan.

Air dan Udara

Sore tadi, oleh Air kepada Udara... Pernah kita dikabarkan dekat oleh beberapa orang. Aku, senang bukan main karenanya. Tentu saja. Sebab aku memang suka seperti itu, aku memang suka padamu. Lalu, kita menambah heboh kabar tentang kita. Tanpa sadar, wallpaper di ponsel kita sama, foto kita. Kau mungkin saja memasang itu sebab wajahmu terlihat sangat manis disana. Tapi, tidak aku. Aku memasangnya secara sengaja. Sebab objek di gambar itu kita. Aku dan kamu. Itu foto pertama kita. Aku menyukainya. Sambil sesekali berkhayal tentang nyatanya kabar yang beredar tentang kita. Berkhayal bahwa itu tak hanya kabar tak pasti, melainkan benar adanya. Benar ada kita di kenyataan ini. Lalu, seiring makin seringnya kabar itu datang, kau tampak tak suka atas itu. Kucoba meminta maaf padamu. Berharap kabar itu tidak merubah sikapmu padaku. Tapi, terlambat. Kau tak hanya berubah. Kau merubah kabar yang ada selama ini. Merubahnya menjadi kabar yang tak hanya tidak mengenakkan. Tapi, juga menyakitkan. K...

Membiarkan Meninggalkan

Malam ini, dia menitikkan air mata lagi karenamu. Setelah membuka kembali semua lukisanmu yang masih disimpannya. Sebagian, ada dia disana. Matanya sembab, itu masih karenamu. Sebagian besar merindukanmu. Sebagian memikirkan betapa hebatnya waktu merubah segala hal tentang kalian. Sebagian lagi, betapa harapan untuk kembali, seolah takkan terjamah oleh kenyataan yang terjadi. Mungkin terlalu bodoh untuk memikirkan semua itu lagi. Apalagi, tentang adanya dirimu disana. Tentangmu yang selalu menyiapkan tempat khusus untuknya, dimanapun pijakan kakimu berada. Tentangmu yang menyempatkan diri untuk menemaninya di 12 tempat berbeda, waktu berbeda, hanya agar dia tak bosan disana. Kau menyempatkan diri diantara tugasmu yang menggunung. Lalu, tanpa menunggu setahun, waktu yang dikiranya akan merubah semuanya secara alami. Kau membiarkan semuanya berubah. Kau berulah seolah kau tak membutuhkan dia lagi. Seolah dia tak penting lagi. Atau memang selama ini kau ada untuk mencuri semua kebutuhanmu...

Maaf...

"Plak!!" Sebuah tamparan keras mendarat di pipimu. Sungguh, tak kusengaja itu. Itu hanya reaksi spontanku atas ucapanmu yang bukan-bukan tentang aku dan dya. Tak sengaja. Tak serius. Tapi, kau langsung meninggalkanku setelah itu. Berusaha menghindariku. Dan malah mengalihkan perhatianmu dariku. Aku mengejarmu, terus memohon maafmu. Kau bilang, sudah memaafkanku. Lalu, kau menasehatiku tentang tamparan itu. Katamu, selayaknya paku yang telah ditancapkan, seketika paku itu dicabut, tetap akan meninggalkan lubang pada akhirnya. Aku kaget, shock!! Sebegitu parahnyakah aku menyakiti hatimu, teman? Maaf... Aku terlalu sibuk mengkritiki perilaku orang lain. Sedang perilakuku sendiri menuntut perhatian ekstraku. Perhatian agar tangan ini tak sembarangan lagi beraksi dan menyakiti orang lain. Mungkin, sakit di pipimu telah hilang. Tapi, lubang di hatimu tidak. Maaf... Andai ada suatu cara untuk mengubah itu. Setidaknya, bisa menghilangkan rasa sakitmu. Meski mungkin menyakitiku. Tapi,...

"Mauko kayak saya?!"

Pagi itu, pukul 09.30 saya tiba di kampus. Berniat kuliah, pada awalnya. Tapi, mau apalagi, saya sudah telat 90 menit. Saya sempat melirik ke dalam kelas. Kulihat asdos-nya sedang asyik mengajar teman-temanku. Hm... karena alasan takut dimarahi asdos dan malas masuk, saya memilih duduk di koridor saja. Menunggu perkuliahan selesai. Saya duduk di samping dia. Pagi itu, saya bermaksud menyapanya saja. Mungkin bisa berbagi cerita sedikit di pagi yang cerah itu. Tapi... Dia : "Kenapako nda masuk??" Saya : "Telatka datang, adami dosennya." Dia : "Ih, masuk mko!! baru itu datang dosennya!! cepatko, masukko!!" (dengan sedikit membentak) Saya : "Edd.. janganmi deh! malaska! lagipula banyak kali mi sy nda masuk. Error mi pasti itu" Dia : "Nda ji. baru lima menit itu masuk dosenmu. Masukmi cepat!" Saya : "Tapi jam berapa mi ini, kak!" Dia : "Masukko! Mauko kayak saya?!" Saya tersentak, terdiam! Mungkin s...